Gempa NTT. Foto: MI.
Gempa NTT. Foto: MI.

Dari Bantuan hingga Pulihkan Ekonomi, Begini Gerak BUMN Usai Gempa NTT

Arif Wicaksono • 29 Agustus 2026 19:14
Ringkasnya gini..
  • Gempa bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 membuat masyarakat di sejumlah wilayah Flores harus menghadapi situasi darurat. Pemerintah pun bergerak, termasuk mengerahkan badan usaha milik negara (BUMN) untuk membantu penanganan di lapangan.
  • Salah satu kekuatan BUMN dalam situasi seperti ini adalah jaringan yang sudah tersedia sebelum bencana terjadi.
Jakarta: Ketika gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), yang terdampak bukan cuma bangunan. Aktivitas warga, layanan publik, hingga roda ekonomi ikut terguncang.
 
Gempa bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 membuat masyarakat di sejumlah wilayah Flores harus menghadapi situasi darurat. Pemerintah pun bergerak, termasuk mengerahkan badan usaha milik negara (BUMN) untuk membantu penanganan di lapangan.
 
Baca juga: Dua Pekan Berlalu, Begini Kondisi NTT Setelah Diguncang Gempa M7,7      

Keterlibatan BUMN bukan sekadar soal mengirim bantuan. Dengan jaringan bisnis yang tersebar di berbagai daerah, perusahaan negara punya modal operasional untuk membantu distribusi logistik, menjaga layanan vital, hingga mendukung masyarakat ketika mulai masuk tahap pemulihan.
 
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno sebelumnya mengatakan sumber daya pemerintah pusat hingga BUMN dikerahkan untuk menangani dampak gempa di Flores.

“Aparat pusat mulai dari K/L sampai dengan BUMN terlibat penuh,” ujar Pratikno.
 
Presiden Prabowo Subianto juga meminta penanganan terhadap masyarakat terdampak dilakukan secara cepat dan maksimal.
 
“Kami ingin memastikan saudara-saudara kita di sana mendapatkan penanganan darurat yang cepat dan maksimal,” kata Prabowo.
 
Pada fase awal, fokus utama memang memenuhi kebutuhan paling mendesak seperti makanan, obat-obatan, perlengkapan pengungsian dan kebutuhan dasar lainnya.
 
Berdasarkan data BNPB, sejak 15 hingga 22 Agustus 2026 sekitar 954 ton bantuan logistik telah dikirim menuju wilayah terdampak melalui Labuan Bajo dan Maumere. Sementara itu, Pos Pendukung Logistik Nasional menerima sekitar 1.541 ton bantuan dari 72 donatur yang terdiri atas kementerian/lembaga, TNI, BUMN, dunia usaha dan organisasi kemanusiaan.

BUMN Turun Langsung ke Lapang

Salah satu kekuatan BUMN dalam situasi seperti ini adalah jaringan yang sudah tersedia sebelum bencana terjadi.
 
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, misalnya, melalui BRI Peduli membangun tiga posko logistik di Manggarai Barat, Ngada dan Nagekeo. BRI juga mendirikan satu dapur umum di Nagekeo.
 
Posko tersebut berada di Batu Cermin, Kecamatan Komodo untuk wilayah Labuan Bajo-Manggarai Barat; Bajawa di Kabupaten Ngada; serta Mbay di Kabupaten Nagekeo.
 
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan keberadaan posko dan dapur umum tersebut ditujukan agar bantuan bisa lebih dekat dengan masyarakat dan disalurkan secara cepat sesuai kebutuhan di lapangan.
 
Menurut dia, posko juga menjadi tempat untuk mengumpulkan, mengelola dan menyalurkan bantuan sebelum diberikan kepada warga terdampak.
 
“Posko logistik dan dapur umum BRI Peduli merupakan bentuk komitmen BRI untuk terus hadir bersama masyarakat, khususnya dalam situasi yang membutuhkan kepedulian dan dukungan seperti halnya di NTT. Ke depan, posko logistik dan dapur umum tidak menutup kemungkinan untuk kami tambah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan,” ujar Dhanny.
 
Kehadiran BRI menunjukkan bahwa keunggulan BUMN dalam kondisi bencana bukan hanya soal kemampuan menyediakan dana. Jaringan cabang, karyawan, rantai pasok dan infrastruktur yang sudah tersebar di berbagai wilayah bisa ikut menjadi bagian dari sistem respons cepa

Energi dan Logistik Ikut Bergerak

Dari sektor energi, Pertamina Hulu Energi (PHE) ikut menyalurkan bantuan berupa sembako, perlengkapan pengungsian dan obat-obatan.
 
Corporate Secretary PHE Hermansyah Y Nasroen mengatakan bantuan tersebut diharapkan bisa membantu meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung proses pemulihan di wilayah terdampak.
 
“Kami berharap bantuan logistik, perlengkapan pengungsian, serta obat-obatan ini dapat meringankan beban para korban dan mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak,” ujarnya.
 
Peran BUMN energi menjadi penting karena kehidupan masyarakat tidak bisa kembali normal jika layanan dasar belum pulih. Listrik, energi, transportasi dan fasilitas publik menjadi bagian dari rantai yang harus kembali berjalan agar aktivitas ekonomi bisa bangkit.
 
Pertamina New & Renewable Energy (NRE) juga menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga Desa Watu Baur, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Bantuan tersebut diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang masih berada dalam masa pemulihan.
 
BUMN lain turut mengambil bagian. PT Peruri menyalurkan kebutuhan pokok dan perlengkapan pendukung kepada BNPB untuk kemudian didistribusikan kepada masyarakat terdampak.
 
Sementara itu, PT Danareksa (Persero) bersama anggota holding kawasan industri, tenant, karyawan dan mitra mengumpulkan bantuan untuk korban gempa.
 
Bantuan yang dihimpun cukup beragam, mulai dari 9,5 ton beras, lebih dari 1.100 porsi makanan siap saji, 300 liter minyak goreng, susu, perlengkapan istirahat hingga kebutuhan kebersihan keluarga.
 
Direktur Utama Danareksa Ngurah Wirawan mengatakan jaringan dan kapasitas bisnis yang dimiliki akan dioptimalkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Program Pemberdayaan Berubah Jadi Respons Bencana

Ada pula cerita dari Program Relawan Bakti BUMN 2026 yang berubah jadi respon bencana. Petrokimia Gresik bersama Pupuk Indonesia sebelumnya menjadi tuan rumah program tersebut di Ruteng, Kabupaten Manggarai mengubah program tersebut yang awalnya difokuskan pada pemberdayaan masyarakat dan sektor pertanian melalui program TAJUMASE atau Tani Maju Makmur Sejahtera.
 
Namun, gempa yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 mengubah prioritas di lapangan. Program yang awalnya dirancang untuk pemberdayaan kemudian disesuaikan menjadi dukungan tanggap darurat bagi masyarakat terdampak.
 
“Program ini awalnya kami siapkan untuk mendorong pemberdayaan masyarakat, khususnya di sektor pertanian. Namun ketika terjadi bencana, kebutuhan masyarakat tentu menjadi prioritas. Karena itu, kami bersama Pupuk Indonesia dan Relawan Bakti BUMN bergerak menyesuaikan program agar kehadiran kami di NTT memberikan manfaat yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini,” jelas Daconi.
 
Perubahan tersebut memperlihatkan satu hal program yang sudah dirancang jauh-jauh hari tetap harus fleksibel ketika kondisi masyarakat berubah secara drastis.

Rumah BUMN Ende

PLN juga mengambil peran melalui Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (UIW NTT), UP3 Flores Bagian Barat dan Rumah BUMN Ende. Pada Jumat, 21 Agustus 2026, mereka menyalurkan bantuan darurat kepada masyarakat terdampak di Kabupaten Ende.
 
Sebanyak 50 paket kebutuhan pokok diserahkan kepada BPBD Kabupaten Ende untuk didistribusikan ke lokasi pengungsian dan permukiman warga.
 
Isi paket tersebut mencakup beras, telur, gula pasir, mi instan, minyak goreng, biskuit, susu dan sereal. Ada pula perlengkapan sanitasi seperti sabun mandi, sampo dan deterjen.
 
Menariknya, Rumah BUMN Ende tidak hanya ikut dalam aksi bantuan kemanusiaan. Lembaga tersebut selama ini juga memiliki fungsi sebagai pusat pembinaan dan pemberdayaan UMKM lokal.
 
Artinya, ketika kondisi kembali stabil, Rumah BUMN dapat kembali memainkan peran dalam membantu pelaku usaha lokal bangkit.
 
General Manager PLN UIW NTT F. Eko Sulistyono mengatakan kehadiran PLN di wilayah terdampak bukan hanya berkaitan dengan pemulihan jaringan listrik, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.
 
“Kolaborasi bersama Rumah BUMN Ende dan BPBD Ende tersebut diharapkan dapat meringankan beban saudara-saudara kita sekaligus membangkitkan semangat untuk segera pulih dan bangkit bersama,” ujar Eko.

Jangan Sampai Bantuan Mandek

Setelah bantuan berdatangan, pekerjaan belum selesai. Tantangan berikutnya justru memastikan bantuan sampai kepada orang yang benar-benar membutuhkan.
 
Kepala BNPB Suharyanto menilai pemerintah daerah perlu memiliki stok logistik sendiri sehingga bisa merespons bencana dengan lebih cepat.
 
“Kami sarankan ke depan masing-masing kabupaten/kota punya logistik, buffer stok siap,” kata Suharyanto.
 
Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB dan BUMN menjadi penting. Data mengenai korban, kerusakan rumah dan kebutuhan warga harus akurat agar bantuan tidak salah sasaran.
 
Memasuki tahap pemulihan, pemerintah juga menyiapkan bantuan perbaikan rumah bagi masyarakat terdampak.
 
Untuk rumah rusak ringan, bantuan yang disiapkan sebesar Rp15 juta. Rumah rusak sedang mendapatkan dukungan Rp30 juta. Sementara rumah dengan kerusakan berat akan ditangani melalui pembangunan hunian tetap atau huntap.
 
Sambil menunggu huntap selesai, warga dengan rumah rusak berat dapat memperoleh dana tunggu hunian (DTH) Rp600 ribu per bulan untuk menyewa tempat tinggal sementara atau menempati hunian sementara (huntara).
 
Seluruh bantuan tersebut diberikan berdasarkan pendataan, verifikasi dan validasi tingkat kerusakan rumah bersama pemerintah daerah.

Setelah Bantuan, Saatnya Ekonomi Hidup Lagi

Pada akhirnya, penanganan gempa NTT tidak bisa berhenti pada fase bantuan darurat. Warga perlu kembali bekerja. Pedagang harus bisa membuka warungnya. Petani perlu kembali ke lahannya. Pelaku UMKM harus bisa memproduksi dan menjual barang lagi.
 
Di sinilah peran BUMN bisa berkembang dari sekadar “datang membawa bantuan” menjadi “membantu ekonomi kembali berjalan”.
 
Jaringan logistik dapat membantu distribusi. BUMN energi menjaga layanan vital. Perbankan dapat mendukung kebutuhan finansial. Rumah BUMN bisa menjadi tempat pendampingan UMKM. Infrastruktur digital dapat membantu pelaku usaha kembali terhubung dengan konsumen.
 
Dengan kolaborasi seperti itu, pemulihan tidak hanya berbicara tentang membangun kembali rumah atau fasilitas yang rusak. Ukuran keberhasilannya juga bisa dilihat dari hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: kapan warga bisa kembali bekerja, mendapatkan penghasilan dan menjalankan usahanya seperti semula.
 
Sebab, bagi masyarakat yang terdampak bencana, benar-benar bangkit bukan sekadar ketika bangunan kembali berdiri. Bangkit berarti ketika kehidupan dan ekonomi mereka kembali bergerak.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan