Rupiah. Foto: MI.
Rupiah. Foto: MI.

Rupiah Makin Tertekan, Sentuh Rp17.659/USD

Arif Wicaksono • 18 Mei 2026 09:22
Ringkasnya gini..
  • Mengacu pada data pasar Investing, rupiah berada di kisaran Rp17.659,6 per dolar AS atau melemah sekitar 1,24 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
  • Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari penguatan dolar AS. Mata uang domestik juga melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia lainnya.
Jakarta: Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada awal perdagangan Senin pagi, 18 Mei 2026. Mata uang Garuda tercatat turun terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah masih kuatnya sentimen global terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
 
Baca juga:  5 Bisnis Paling Cuan saat Dolar AS Menguat, Ada yang Cuma Modal Internet

Mengacu pada data pasar Investing, rupiah berada di kisaran Rp17.659,6 per dolar AS atau melemah sekitar 1,24 persen dibanding perdagangan sebelumnya. Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari penguatan dolar AS. Mata uang domestik juga melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia lainnya.
 
Terhadap yuan China, rupiah tercatat berada di level Rp2.590,49 atau turun sekitar 1,01 persen. Sementara terhadap yen Jepang, rupiah melemah hingga ke posisi Rp111,10 per yen.
 
Mata uang Thailand juga menunjukkan penguatan terhadap rupiah. Nilai tukar baht tercatat naik sekitar 0,99 persen ke level Rp539,742.

Di kawasan Eropa, euro ikut menguat terhadap rupiah. Mata uang Uni Eropa tersebut berada di level Rp20.461 atau naik sekitar 0,78 persen. Adapun ringgit Malaysia terapresiasi sekitar 0,43 persen menjadi Rp4.439,23.
 
Sementara itu, indeks dolar AS masih bergerak di zona penguatan. Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama global itu tercatat berada di level 99,290 atau naik tipis 0,08 persen.
 
Di tengah penguatan dolar AS, harga emas dunia justru mengalami koreksi. Instrumen emas spot XAU/USD turun sekitar 0,24 persen ke posisi 4.529,00.
 
Pelemahan rupiah diperkirakan akan meningkatkan tekanan terhadap sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor maupun pembayaran berbasis dolar AS. Kenaikan biaya bahan baku dan logistik berpotensi membebani sejumlah industri domestik.
 
Meski demikian, kondisi kurs yang melemah juga dapat menjadi keuntungan bagi perusahaan berorientasi ekspor. Emiten yang memperoleh pendapatan dalam denominasi dolar AS berpeluang menikmati peningkatan nilai pendapatan setelah dikonversi ke rupiah.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan