Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani
Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani

Pemerintah Diminta Segera Lakukan Penyederhanaan Struktur Tarif Cukai Tembakau

Ekonomi industri rokok cukai tembakau
Eko Nordiansyah • 03 Juni 2021 19:30
Jakarta: Upaya pemerintah untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia masih terhambat kebijakan cukai hasil tembakau yakni struktur tarif cukai hasil tembakau (CHT) yang ada saat ini. Hal ini terbukti dari prevalensi perokok di Indonesia tergolong tinggi dan terus meningkat dari tahun ke tahun.
 
Ketua Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) Aryana Satrya mengatakan target penurunan prevalensi perokok di Indonesia belum optimal karena kebijakan untuk mengendalikan konsumsi rokok masih harus dilakukan secara konsisten. Selain kenaikan CHT, harus diimbangi dengan kenaikan harga jual eceran (HJE) dan penyederhanaan struktur tarif.
 
Ia mengatakan, dalam skenario Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2021 menunjukkan bahwa kenaikan tarif CHT minimal 20 persen dengan penyederhanaan struktur tarif CHT menjadi tiga hingga lima strata dapat meningkatkan penerimaan negara dan mencapai target penurunan prevalensi perokok anak menjadi 8,7 persen pada 2024.
 
"Penerapan cukai rokok di Indonesia saat ini masih beragam karena banyaknya golongan tarif cukai, hal ini menyebabkan harga rokok bervariasi dan memungkinkan masyarakat membeli rokok yang lebih rendah sehingga diperlukan penyederhanaan struktur tarif cukai hasil tembakau," kata dia kepada wartawan di Jakarta, Kamis, 3 Juni 2021.
 
Aryana mengatakan, berdasarkan penelitian Prasetyo dan Adrison pada 2019, kebijakan cukai dengan struktur yang kompleks (multi tiers specific) yang mulai berlaku sejak 2009 hingga saat ini di Indonesia menghambat penurunan konsumsi rokok dan menyebabkan penerimaan negara menjadi tidak optimal.
 
"Oleh karena itu, dalam setiap kesempatan PKJS-UI selalu merekomendasikan kenaikan CHT harus dibarengi dengan penyederhanaan struktur tarif cukai rokok di Indonesia, dan ini harus dilakukan sedini mungkin," ungkapnya.
 
Ia berharap penyederhanaan struktur tarif cukai dapat dijalankan sesuai reformasi kebijakan fiskal yang dituangkan dalam Peraturan Kementerian Keuangan (PMK) nomor 77 tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2020-2024. Penyederhanaan struktur tarif cukai juga menjadi penting untuk mengurangi konsumsi rokok karena akan mengubah variasi harga rokok di pasaran.
 
"Berkurangnya variasi harga rokok di masyarakat, akan membuat anak, remaja, dan masyarakat miskin semakin tidak terjangkau dalam membeli rokok, dan dampaknya terhadap pengendalian konsumsi akan makin besar. Berdasarkan studi, struktur tarif cukai dengan banyak layer juga memberikan insentif bagi perusahaan tembakau untuk memproduksi rokok dengan tarif pajak yang lebih rendah," lanjut dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Peneliti dari University of Illinois di Chicago Profesor Frank J. Chaloupka sebelumnya juga menyampaikan kelemahan sistem tarif cukai kompleks seperti yang berlaku di Indonesia. Dengan sistem yang sangat kompleks, katanya, industri berpeluang untuk membayar pajak lebih murah.
 
"Sistem tarif berjenjang atau berdasarkan strata membuka peluang pengindaran pajak karena banyaknya golongan yang bergantung pada jumlah produksi. Sistem tarif cukai berdasarkan golongan membuka peluang bagi industri untuk mencoba bermain di jumlah produksi untuk menghindari pajak," pungkasnya.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif