CV Pria Tampan. Foto : Perusahaan.
CV Pria Tampan. Foto : Perusahaan.

Eksportir Tekstil Bangkit di Tengah Pandemi

Eko Nordiansyah • 16 September 2021 13:50
Jakarta: Sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) menjadi salah satu sektor yang mengalami pukulan terdalam baik untuk pasar domestik maupun di pasar global. Terlebih pemulihan ekonomi yang sempat terakselerasi di awal 2021 ini harus kembali mengalami tekanan akibat varian baru covid-19 sehingga membuat ekonomi kembali tertekan.
 
Meski begitu, sejumlah eksportir yang adaptif yang mampu merespon kebutuhan produk TPT di masa pandemi sehingga penjualan ekspornya ekspansif. Salah satunya adalah CV Pria Tampan per Agustus 2021, UKM berorientasi ekspor batik asal Solo ini mampu melakukan pengiriman kain batik ke luar negeri senilai USD467 ribu.
 
CEO dari CV Pria Tampan Andri Setyawan mengatakan, ekspor batik asal Solo ini mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya dengan nilai ekspor yang mencapai USD463 ribu. Selama tiga tahun terakhir, mayoritas negara tujuan dari UKM asal Solo ini adalah Kanada dan Amerika Serikat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat ini, kita yang baru memulai atau sudah lama menjalankan bisnis, dihadapkan pada situasi yang kurang lebih sama yaitu pandemi covid-19. Sehingga sangat penting untuk tetap optimis dan memiliki pola pikir positif bahwa kita dapat melewati situasi saat ini," kata dia dalam keterangan resminya, Kamis, 16 September 2021.
 
Berdasarkan kajian IEB Institute, sektor TPT berperan penting terhadap perekonomian Indonesia melalui kontribusinya kepada PDB, ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Kontribusi Sektor TPT Indonesia terhadap total PDB nasional 2020 sebesar 1,21 persen dengan kontribusi ekspor TPT sebesar 6,12 persen dari total ekspor, dan tenaga kerja sekitar tiga juta pekerja.
 
Ekspor industri TPT tertekan dari tiga sisi baik dari permintaan, suplai dan distribusi. Sepanjang 2020, ekspor TPT hanya senilai USD10,55 miliar turun 17,7 persen (yoy) dari 2019. Penurunan tersebut terjadi di berbagai produk yaitu segmen benang minus 27,3 persen (yoy), kain minus 15,7 persen (yoy) dan pakaian jadi minus 15,1 persen (yoy).
 
Kontribusi penurunan terbesar berasal dari penurunan pakaian jadi yang memiliki porsi 66 persen dari total ekspor TPT Indonesia. Dari data penjualan ekspor per tahun untuk setiap individu eksportir, yaitu nilai penjualan ekspor per tahun menunjukkan survival mode yang berbeda dari setiap eksportir.
 
Eksportir kelas besar atau korporasi didukung jejaring yang kuat di pasar ekspor. Sementara eksportir kelas menengah mengalami penurunan penjualan yang signifikan dan pada gilirannya menyebabkan mereka turun kelas. Sedangkan eksportir kelas kecil paling merasakan dampaknya sehingga beberapa harus keluar dari pasar ekspor.
 
"Mau tidak mau harus lebih jeli dalam memanfaatkan segala peluang yang ada, sekecil apapun itu. Selain itu, kita juga harus memanfaatkan segala bantuan yang diberikan Pemerintah seperti saya juga telah memanfaatkan program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) UKM dari LPEI. Bantuan tersebut sangat membantu kita dalam menjalankan usaha khususnya di tengah situasi seperti ini," ujar Andri.

 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif