Ilustrasi pedagang beras. Foto: dok MI/Benny Bastiandy.
Ilustrasi pedagang beras. Foto: dok MI/Benny Bastiandy.

Pembatalan Pajak Sembako Bantu Jaga Daya Beli Masyarakat

Ekonomi Bahan Pokok sembako daya beli masyarakat pandemi covid-19 PPN Pajak Sembako
Fetry Wuryasti • 05 Oktober 2021 14:56
Jakarta: Langkah pemerintah yang akhirnya membatalkan rencana pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap sembilan bahan pokok (sembako) akan membantu menjaga daya beli masyarakat yang selama ini banyak tertekan akibat pandemi covid-19.
 
Walaupun pembatalan tersebut belum final, dikecualikannya sembilan bahan pokok dari objek yang dikenai PPN perlu diapresiasi. Sebab pandemi covid-19 menyebabkan pendapatan sebagian masyarakat berkurang bahkan hilang.
 
"Hal ini menyebabkan daya beli menjadi rendah. Mereka memilih mengonsumsi pangan murah dan mengenyangkan yang belum tentu bergizi. Kalau (PPN) dikenakan sembako, komoditas pokok ini dikhawatirkan menjadi semakin tidak bisa dijangkau," jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Aditya Alta, Selasa, 5 Oktober 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemerintah akhirnya membatalkan rencana pemberlakuan PPN terhadap barang barang kebutuhan pokok atau sembako, yaitu beras dan gabah, jagung, sagu, kedelai, garam konsumsi, daging, telur, susu, buah-buahan, sayur-sayuran, ubi-ubian, bumbu-bumbuan dan gula konsumsi.
 
Secara umum kenaikan harga, termasuk dengan pengenaan PPN, akan mendorong inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat. Padahal, belanja rumah tangga, bersama konsumsi pemerintah, merupakan komponen pertumbuhan ekonomi negara yang relatif dapat didorong oleh pemerintah dalam jangka pendek untuk memulihkan perekonomian nasional di saat sulit seperti sekarang ini.
 
Karena itu, pengenaan PPN pada sembako tidak saja akan meningkatkan harga pangan dan karenanya mengancam ketahanan pangan, bukan hanya bagi yang berpendapatan rendah, melainkan juga akan berdampak buruk kepada perekonomian Indonesia secara umum.
 
"Tingginya harga bahan pangan di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk diselesaikan. Perlu juga dipikirkan dampak dari hal ini bagi masyarakat selama beberapa tahun ke depan, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah," jelas Aditya.
 
Pangan merupakan salah satu komponen utama pengeluaran rumah tangga, dan bagi masyarakat berpendapatan rendah, belanja kebutuhan pangan bisa mencapai sekitar 56 persen dari pengeluaran rumah tangga mereka.
 
PPN yang ditarik atas transaksi jual-beli barang dan jasa yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP), pada akhirnya akan dibebankan pengusaha kepada konsumen. Ketahanan pangan Indonesia sendiri berada di peringkat 65 dari 113 negara, berdasarkan Economist Intelligence Unit's Global Food Security Index 2020.
 
Salah satu faktor di balik rendahnya peringkat ketahanan pangan Indonesia adalah masalah keterjangkauan.Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2021 mencapai 27,54 juta orang atau sekitar 10 persen penduduk.
 
Jumlah ini menunjukkan kenaikan sebesar 1,12 juta orang di bandingkan Maret 2020. Garis Kemiskinan pada Maret 2021 tercatat sebesar Rp472.525 per kapita per bulan dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp349.474 (73,96 persen) dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp123.051 (26,04 persen).
 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif