Ilustrasi Medcom.id.
Ilustrasi Medcom.id.

Persaingan di Sektor Keuangan Makin Ketat Gara-gara Digitalisasi

Eko Nordiansyah • 26 Januari 2023 06:17
Jakarta: Kemajuan teknologi digital yang pesat dalam dasawarsa ini telah mengubah perilaku manusia di dalam berbagai aspek kehidupan. Begitu pun di sektor jasa keuangan, beragam model bisnis baru bermunculan seperti financial technology (fintech), bigtech, bank digital yang mendorong persaingan makin ketat.
 
Keberadaan teknologi digital dinilai mampu membuat entitas bisnis makin efektif dan efisien dalam bisnis dan operasionalnya, serta memberikan kemudahan transaksi dan pelayanan bagi konsumen. Namun demikian, kemajuan yang pesat juga diiringi oleh maraknya kejahatan siber (cyber crime) yang makin canggih.
 
Direktur Digital dan Teknologi Informasi Bank BRI, Arga M Nugraha mengatakan, terdapat maturitas yang berbeda dari setiap lapisan masyarakat, misalnya antara perkotaan dan pedesaan. Ada yang sudah terliterasi dengan baik sehingga lebih mudah didorong untuk beralih ke digital, namun juga ada yang belum terliterasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kami percaya dengan besarnya serta tersebarnya secara geografis nasabah kami, sehingga kami tetap mengedepankan pendekatan yang kami sebut hybrid bank,” ujarnya dalam webinar ‘A New Competitive Landscape in the Banking and Financial Sector’ di Jakarta, Rabu, 25 Januari 2023.
 
Dengan pendekatan ini, ia meyakini perubahan ke arah digital telah terjadi pada nasabah bank BRI. Saat ini sekitar 98,41 persen transaksi nasabah BRI dilakukan di channel digital, sementara sisanya sebanyak 1,59 persen masih dilakukan secara konvensional misalnya melalui kantor cabang, dan sebagainya.
 
Sementara itu, Komisaris Independen Bank Raya sekaligus Co-Founder Sayurbox Rama Notowidigdo membeberkan tantangan bagi digital banking yaitu bagaimana membangun ekosistem dalam pengembangan bisnis. Hal ini diperlukan agar ada koneksi antar merchant dalam melakukan pembayaran melalui digital banking.
 
“Beruntungnya, Bank Indonesia (BI) telah mendukung payment system untuk memudahkan bertransaksi. Saat ini juga sudah ada QRIS, yang akan mempermudah digital bank masuk dan ber-partner dengan ekosistem dibandingkan membangun ekosistem sendiri,” ucap Rama.
 
Ia menyadari dibutuhkan waktu yang lama untuk membangun ekosistem sendiri, meskipun sudah ada pembayaran menggunakan QRIS dalam mempermudah transaksi. Hal itu yang membuat bank digital akhirnya memilih menempel dengan ekosistem yang sudah ada dan tidak membangun ekosistem sendiri.
 
“Walaupun sudah ada tools menggunakan QRIS yang jauh lebih simpel, tapi harus tetap membangun transaksi, membangun merger dan akuisisi, nah ini akhirnya banyak bank digital yang maunya nempel dengan ekosistem contoh Aladin nempel dengan Alfamart dan sebagainya,” papar dia.
 
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pun melihat perkembangan digitalisasi memacu perseroan untuk terus mengembangkan dan meningkatkan layanan digital melalui perbaikan dan terobosan baru di segmen retail dan wholesale. Untuk itu, Bank Mandiri telah meluncurkan Livin Financial Superapp pada 2021.
 
“Kami mengintegrasikan seluruh financial services, juga dengan urban lifestyle ecosystem dalam satu aplikasi, jadi dalam hal desainnya Livin didesain sebagai sebuah journey,” kata Direktur Information Technology Bank Mandiri, Timothy Utama.
 
Menurut Timothy, fokus utama dari peluncuran Livin Financial Superapp tersebut adalah untuk membangun kapabilitas para nasabah dari kebiasaan yang konvensional menuju ke digital. Dalam setahun ini Livin sudah di-download kira-kira lebih dari 20 juta nasabah dan diprediksi terus bertambah.
 
“Perlu adanya penguatan dalam kapabilitas, realibilitas, ketersediaan, dan keamanan. Untuk itu saya menjalankan terus IT kami dalam hal modernisasi teknologi di jaringan keamanan dan juga back end kami secara end to end kami akan terus bertumbuh dan berinovasi dan dapat bertumbuh secara sustainable,” ungkapnya.
 
Baca juga: Gaya Konsumen Berubah, Perbankan Siap Berkompetisi Ketat dengan Tekfin

 
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Institute Agus Sugiarto menilai, perkembangan digital yang begitu pesat telah memunculkan pemain-pemain baru di industri. Hal tersebut, tentu harus menjadi concern setiap pihak dan pemangku kebijakan yang ada untuk menjamin adanya perlindungan konsumen.
 
“Teknologi digital yang terus tumbuh, mendorong adanya transisi dari physical contactful menjadi physical contactless. Perubahan tersebut telah mengubah persaingan di industri jasa keuangan,” kata Agus.
 
Untuk mengetahui perkembangan digital di industri keuangan dalam negeri, Agus meluncurkan buku berjudul 'Digitalisation: Changing the World of Financial Industry'. Buku ini mengulas lebih dalam mengenai ekonomi digital khususnya di sektor keuangan karena adanya transformasi digital yang mengubah seluruh sistem industri keuangan.
 
“Di dalam buku ini saya menulis berbagai macam artikel-artikel baru yang terkait dengan transformasi digital, munculnya pemain-pemain baru di industri fintech dan juga munculnya aset-aset digital dalam bentuk aset kripto. Di dalam buku ini saya menyajikan perubahan tersebut telah mengubah persaingan di industri jasa keuangan,” ujar Agus.
 
(END)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif