Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Marak Gagal Bayar, Investor Jangan Asal Tergiur Imbal Hasil Tinggi

Ekonomi investasi Jiwasraya
Annisa ayu artanti • 20 Oktober 2020 20:25
Jakarta: Pemilik dana atau investor di sektor industri keuangan diminta waspada dalam menempatkan dana investasi.
 
Pengamat Pasar Modal dan Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan seiring meningkatnya risiko gagal bayar perusahaan investasi, maka investor harus paham betul terkait produk investasi yang dibelinya.
 
Menurutnya, saat ini tidak semua investor memahami dunia investasi, khususnya dalam perasuransian sehingga kebanyakan para pemilik dana tidak begitu kritis atas risiko yang dihadapi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Masalahnya adalah mereka tidak mau ambil pusing dan tidak mau memahami atau mengambil risikonya. Mereka hanya memikirkan keuntungan saja, tanpa melihat risiko. Ketika gagal bayar barulah pusing," kata Teguh dalam keterangan tertulis, Selasa, 20 Oktober 2020.
 
Ia menuturkan saat ini industri keuangan Indonesia sedang dihadapkan pada masalah gagal bayar yang terjadi di beberapa perusahaan asuransi jiwa. Salah satu kasus yang besar adalah gagal bayar polis PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Banyak investor tergiur dengan penawaran produk JS Saving Plan yang memiliki bunga pengembalian yang tinggi dari tujuh persen hingga 12 persen.
 
Dari kasus tersebut, ia menilai perlu perhitungan yang matang yang dilakukan investor sebelum membeli produk investasi yang menjanjikan bunga tetap dan tinggi, termasuk saving plan Jiwasraya. Hal bertujuan agar investor bisa memahami risiko gagal bayar seperti yang terjadi sekarang.
 
"Bunga itu memang tinggi dan menggiurkan. Tapi investor perlu hati-hati, apalagi misalnya yang menempatkan dana di asset manajemen. Di mana dananya itu kena goreng-goreng saham. Di sini investor harus kritis," ucapnya.
 
Teguh pun mengimbau kepada investor untuk meningkatkan literasi agar dapat memperhitungkan matang-matang sebelum menempatkan dana investasinya.
 
Selain itu, ia juga menyarankan agar investor melakukan diversifikasi aset untuk menghindari risiko gagal bayar di tengah adanya kebutuhan likuiditas. Ini dimaksudkan agar masalah gagal bayar yang saat ini terjadi di Jiwasraya harus dipahami sebagai risiko dalam berinvestasi.
 
"Meskipun tidak bisa menyenangkan semua pihak, tapi kita harus apresiasi pemerintah dengan skema bail in-nya melalui penambahan PMN Rp22 triliun ke BPUI. Itu artinya meskipun terjadi gagal bayar, pemerintah atau BUMN tetap mempertahankan reputasi industri keuangan dalam negeri dan sekuat tenaga akan mengembalikan dana nasabah, meski ada penyesuaian ketimbang likuidasi,” jelasnya.
 
Adapun dalam waktu dekat pemerintah bersama manajemen baru akan melakukan sosialisasi terkait program penyelamatan polis Jiwasraya kepada pemegang polis tradisional dan bancassurance.
 
Sosialisasi atas program tersebut dilakukan karena pada 30 September 2020 posisi likuiditas Jiwasraya berada di angka Rp54,5 triliun dengan aset hanya tinggal Rp16 triliun.
 
Atas kondisi tersebut ekuitas Jiwasraya pun berada di posisi negatif yaitu minus Rp38,5 triliun. Sementara untuk utang jatuh tempo Jiwasraya yang belum terbayar hingga kuartal III-2020 telah menyentuh Rp19,4 triliun.
 
Pemerintah pun sedang mengupayakan penyelamatan polis Jiwasraya dengan menyiapkan 'bail in' melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) senilai Rp22 triliun yang akan disalurkan ke Indonesia Financial Group (IFG), yang dahulu bernama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) untuk mendirikan perusahaan asuransi baru bernama IFG Life.
 
Dana senilai Rp 22 triliun ini akan digunakan lebih dulu oleh manajemen IFG Life demi mengembangkan bisnisnya di lini asuransi kesehatan, jiwa, hingga pengelolaan dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) dengan menyasar target pasar berupa ekosistem pegawai BUMN dan masyarakat umum. Sementara untuk polis Jiwasraya yang telah direstrukturisasi, portofolionya akan ditransfer ke IFG Life dan pembayaran akan dilakukan bertahap kepada para pemegang polis.
 
"PMN Rp 22 triliun untuk restrukturisasi Jiwasraya itu tidak kecil. Tapi memang itu penting harus disuntik dengan itu. Ini untuk mempertahankan reputasi bahwa investasi di BUMN aman," pungkasnya.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif