Ilustrasi pupuk bersubsidi - - Foto: Kementan
Ilustrasi pupuk bersubsidi - - Foto: Kementan

Petani Tak Soal Kenaikan Harga Pupuk Subsidi

Ekonomi kenaikan harga petani pupuk subsidi
Husen Miftahudin • 06 Januari 2021 14:29
Jakarta: Organisasi petani dan nelayan, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) menerima keputusan Kementerian Pertanian (Kementan) terkait kenaikan Harga Jual Eceran (HET) pupuk bersubsidi. Namun keputusan tersebut diminta sejalan dengan ketersediaan pupuk bersubsidi di lapangan.
 
"Petani pada umumnya bisa menerima penyesuaian harga pupuk asal alokasinya bisa mencukupi sesuai dengan kebutuhan petani," ungkap Ketua KTNA Provinsi Jawa Barat Otong Wiranta dalam keterangannya kepada Medcom.id, Rabu, 6 Januari 2021.
 
Kenaikan HET pupuk bersubsidi tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 49 Tahun 2020. Beleid tertanggal 30 Desember 2020 itu menetapkan harga baru HET beberapa jenis pupuk bersubsidi sektor pertanian.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Permentan 49/2020 mengatur HET Urea yang semula Rp1.800 per kilogram dinaikkan Rp450, sehingga menjadi Rp2.250 per kilogram. Kemudian pupuk SP-36 yang semula Rp2.000 per kilogram, naik Rp400, sehingga Rp2.400 per kilogram.
 
Selanjutnya pupuk ZA yang asalnya Rp1.400 naik Rp300 sehingga menjadi Rp1.700 per kilogram. Organik granul juga naik sebesar Rp300, dari semula Rp500 per kilogram menjadi Rp800 per kilogram. Sedangkan HET pupuk jenis NPK tetap, yakni Rp2.300 per kilogram.

 
"Kami berharap penyesuaian harga HET (pupuk subsidi) ini menjadi solusi agar dapat menambah jumlah alokasi pupuk subsidi dan segera bisa disalurkan ke lapangan, sehingga petani bisa dengan mudah mendapatkan pupuk subsidi," jelasnya.
 
Di sisi lain, Otong menyambut baik upaya Kementan yang meningkatkan alokasi pupuk subsidi pada tahun ini. Adapun pupuk subsidi yang dialokasikan Kementan pada 2021 sebanyak 10,5 juta ton, naik dari alokasi tahun 2020 sebesar 8,9 juta ton.
 
Otong berharap, peningkatan jumlah alokasi pupuk subsidi ini dapat menjawab kebutuhan petani dalam menunjang produktivitas dan menjaga ketahanan pangan nasional.
 
"Dengan kenaikan alokasi di tahun 2021 ini, kami berharap bisa menyelesaikan masalah yang selama ini ada, yaitu susahnya petani mendapatkan pupuk. Kami ini bisa jadi solusi terbaik dalam penyaluran pupuk bersubsidi sehingga prinsip 6T (tepat jenis, tepat jumlah, tepat harga, tepat tempat, tepat waktu, dan tepat mutu) dalam penyaluranya bisa terlaksana dengan baik," pungkas Otong.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif