Menteri Perdagangan Agus Suparmanto saat menandatangani RCEP. Foto: dok Kemendag/Kementerian Sekretariat Negara.
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto saat menandatangani RCEP. Foto: dok Kemendag/Kementerian Sekretariat Negara.

Ini Awal Mula RCEP Tercetus, Indonesia Turut Andil

Ekonomi Kementerian Perdagangan RCEP
Ade Hapsari Lestarini • 16 November 2020 15:14
Jakarta: Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) resmi ditandatangani.
 
Lalu, bagaimana awal mula RCEP tercetus?
 
Perjanjian kemitraan ini dilakukan oleh 10 negara ASEAN dan mitranya, yakni Australia, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, dan Tiongkok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengungkapkan gagasan RCEP dicetuskan saat Indonesia memegang kepemimpinan ASEAN pada 2011. Tujuannya untuk mengonsolidasikan lima perjanjian perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang sudah dimiliki ASEAN dengan enam mitra dagangnya.
 
Konsep RCEP kemudian disepakati negara anggota ASEAN pada akhir 2011 di Bali, Indonesia. Baru pada akhir 2012 setelah "menjual" konsep ini kepada enam negara mitra FTA ASEAN, para Kepala Negara/Pemerintahan dari 16 negara pun sepakat meluncurkan perundingan RCEP pada 12 November 2012 di Phnom Penh, Kamboja.
 
Pada awal 2013, para Menteri Perdagangan ASEAN sepakat menunjuk Indonesia sebagai Koordinator ASEAN untuk Perundingan RCEP. Kesepakatan ini bahkan diperluas oleh 16 menteri negara peserta perundingan dengan menunjuk Indonesia sebagai Ketua Komite Perundingan Perdagangan (Trade Negotiating Committee/TNC) RCEP.
 
Pada perundingan pertama di 2013, pertemuan TNC dihadiri tidak lebih dari 80 orang anggota delegasi dari 16 negara peserta. Namun mulai akhir tahun ketiga, jumlah anggota delegasi yang terlibat langsung dalam perundingan terus meningkat. Puncaknya terjadi pada 2017-2018.
 
Saat itu, Ketua TNC memberikan arahan dan target pencapaian kepada lebih dari 800 anggota delegasi yang terbagi ke dalam berbagai kelompok kerja dan subkelompok kerja.
 
Perundingan RCEP berlangsung bukan tanpa kendala. Agus menuturkan perbedaan tingkat kesiapan ekonomi negara peserta RCEP memberikan tantangan tersendiri karena ambisi dan sensitivitas yang berbeda antara negara maju, negara berkembang, dan negara kurang berkembang membuat perundingan sering memanas.
 
"Dalam situasi seperti itu, dituntut pemahaman isu secara mendalam, penguasaan seni berunding secara plurilateral, kesabaran, dan bahkan sense of humor dari Ketua TNC, yang akhirnya mampu mempertahankan jalannya perundingan secara produktif. Praktis selama lebih dari delapan tahun berunding, tidak satu kali pun ada negara yang melakukan walk-out dari perundingan," jelas Agus, dalam keterangan resminya, Senin, 16 November 2020.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif