Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Bukan Soal Gaji, Ini Penyebab Bisnis Startup 'Oleng'

Husen Miftahudin • 07 Desember 2022 17:08
Jakarta: Besarnya gaji talenta digital perusahaan rintisan (startup) ditegaskan bukan sebagai biang kerok terjadinya badai pemutusan hubungan kerja (PHK). Sebab, sumber daya manusia (SDM) bukan menjadi pengeluaran terbesar.
 
"Besarnya gaji yang diberikan itu adalah sebuah tren untuk mendapat talenta terbaik di beberapa tahun lalu, dan tahun ini sudah semakin menurun," ungkap Founding Partner AC Ventures Pandu Sjahrir, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 7 Desember 2022.
 
Pandu menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan startup melakukan PHK dalam beberapa bulan terakhir. Faktor pertama adalah dari sisi eksternal, seperti kenaikan suku bunga, inflasi, dan perang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ada faktor perang di awal 2022 dan terjadi kenaikan suku bunga untuk penanganan inflasi. Kenaikan suku bunga ini memengaruhi cost of capital yang terjadi di pasar," jelasnya.
 
Faktor kedua adalah ekspektasi yang tinggi dari investor setelah melihat siklus bisnis atau business cycle yang terjadi dengan sangat cepat bagi perusahaan, khususnya sektor teknologi ketika momentum pandemi covid-19.
 
"Ini bisnis cycle yang amat cepat. Saat 2020 terjadi pandemi, suku bunga menurun, pemerintah membantu dan banyak tumbuh perusahaan teknologi karena banyak shifting dari offline to online. Dan banyak perusahaan teknologi berkembang lebih cepat dari yang diharapkan selama 2020 sampai 2021," lanjutnya.
 
Baca juga: Startup Punya Banyak Pilihan Selain Melakukan PHK

 
Menurut Pandu, yang menjadi faktor ketiga terjadinya badai PHK adalah karena beberapa tahun lalu perusahaan banyak melakukan bakar uang sebagai strategi mendapatkan pasar yang besar.
 
"Anggaran perusahaan terbesar bukan di sumber daya manusia. Banyak perusahaan kini refocus pada bisnis mereka dan dan mengurangi burning cost; entah itu di marketing cost, business processing cost, semuanya itu dikurangi secara signifikan," ucap Pandu.
 
Lebih lanjut, pada 2023 akan mengubah bentuk startup setelah badai PHK ini. Katanya, PHK telah mengajarkan perusahaan untuk kembali pada fokus bisnis mereka dan mengutamakan mengejar profit alih-alih mengejar pasar yang luas (market share).
 
"Saya optimis pada 2023 karena banyak reshaping dari sisi industri. Mungkin akan ada yang merger, konsolidasi, dan pemenang dari ini akan jadi ultimate winner lima sampai sepuluh tahun ke depan."
 
"Dan untuk perusahaan startup baru kemungkinan kualitas di 2023 bisa sangat bagus. Karena kualitas founder sudah berpikir bukan market share tapi cari solusi yang pas dengan capital yang tidak terlalu besar," tambahnya.
 
*Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id*
 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif