Ilustrasi nilai tukar rupiah - - Foto: dok MI
Ilustrasi nilai tukar rupiah - - Foto: dok MI

Surplus Neraca Dagang Dorong Penguatan Rupiah

Antara • 18 Mei 2022 08:50
Jakarta: Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai neraca perdagangan Indonesia yang terus surplus berdampak baik pada kestabilan nilai tukar rupiah.
 
“Ketika neraca dagang itu surplus berpotensi mendatangkan pundi valas yang lebih besar ke devisa, sehingga bisa mendorong nilai tukar menjadi lebih stabil di tengah ketidakpastian konflik geopolitik dan pandemi yang belum berakhir di beberapa negara,” kata Ekonomi CORE Yusuf Rendy dikutip Rabu, 18 Mei 2022.
 
Nilai tukar rupiah yang relatif stabil, lanjutnya, bisa memperkecil dorongan ataupun ruang untuk Bank Indonesia untuk bisa kemudian nanti misalnya menaikkan suku bunga acuan dengan berpatokan pada inflasi saja.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kemungkinan besar hanya dari inflasi saja karena nilai tukarnya berpotensi berada di level yang relatif stabil akibat akibat adanya surplus perdagangan yang melonjak cukup tinggi di April ini,” ujarnya.
 
Neraca perdagangan yang pada April 2022 mencapai USD7,56 miliar dan menjadi surplus tertinggi sepanjang sejarah, tidak terlepas dari trend kenaikan harga komoditas terutama batubara dan minyak.
 
Di saat yang bersamaan juga terjadi peningkatan dari impor terutama impor untuk barang konsumsi ternyata tidak setinggi dibandingkan proyeksi yang disampaikan oleh pemerintah serta impor barang modal bahan baku pun meningkat secara year on year.
 
“Kalau saya lihat memang kombinasi dari kenaikan harga komoditas dan juga peningkatan permintaan di bulan April dan disaat yang bersamaan impor yang relatif tumbuh lebih rendah dibandingkan ekspor yang kemudian mendorong neraca perdagangan kembali surplus,” jelasnya.

 
Kinerja gemilang neraca perdagangan tersebut diakui CORE cukup mengejutkan karena sebelumnya diproyeksikan harga komoditas seperti CPO mengalami penurunan akibat turunnya harga CPO global. Namun hal tersebut ternyata belum terlalu berdampak terhadap kondisi neraca perdagangan di April.
 
Kendati demikian, ia mengingatkan agar pemerintah tetap waspada karena surplus perdagangan yang meningkat tajam tersebut disinyalir karena harga komoditas yang meningkat drastis bukan dari sisi volume.
 
Termasuk faktor isu global yang beredar seperti ketidakpastian akibat misalnya konflik geopolitik Rusia dan Ukraina yang berdampak pada kondisi perekonomian.
 
“Artinya nilai harga dari produk komoditas akan relatif lebih rendah apabila sekali lagi kondisi perekonomian sudah jauh lebih stabil,” tuturnya.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif