Kondisi ini mendorong lonjakan biaya logistik, ditandai dengan kenaikan tarif pengiriman, penerapan fuel surcharge, hingga keterbatasan kapasitas angkut.
| Baca juga: Konflik Timur Tengah Ancam Kenaikan Biaya Logistik |
Situasi tersebut membuat pasar kargo udara memasuki fase baru: lebih mahal, lebih sempit, dan cenderung tidak stabil. Akibatnya, pelaku usaha di berbagai sektor mulai meninjau ulang strategi logistik mereka.
Moda udara yang sebelumnya menjadi pilihan utama untuk pengiriman bernilai tinggi dan sensitif waktu kini tidak lagi selalu menjadi opsi paling rasional. Sejumlah perusahaan mulai beralih ke alternatif yang lebih efisien, seperti transportasi laut maupun skema multimoda yang mengombinasikan berbagai jenis angkutan.
Senior Vice President FIATA sekaligus anggota Dewan Penasihat CILT, Yukki Nugrahawan Hanafi, menjelaskan tekanan pada industri ini sangat dipengaruhi oleh lonjakan harga energi global. Ia mencatat harga avtur yang sebelumnya berada di kisaran USD 75–USD87 per barel kini melonjak hingga USD 175–USD200 per barel.
Kenaikan ini berdampak langsung pada penurunan permintaan kargo udara secara global, yang tercatat turun sekitar 22%. Bahkan, pada rute Asia–Eropa, tekanan permintaan mencapai hingga 39%.
Menurut Yukki, dinamika global tersebut turut berimbas pada sistem logistik nasional. Saat ini, struktur logistik Indonesia masih sangat bergantung pada transportasi darat, dengan kontribusi mencapai sekitar 90%. Ketergantungan ini membuat distribusi domestik rentan terhadap tekanan eksternal.
Ketika biaya kargo udara meningkat, sebagian arus barang berpotensi bergeser ke jalur darat dan laut. Perubahan ini, di satu sisi membuka peluang, namun di sisi lain berpotensi menambah beban pada infrastruktur yang sudah menghadapi berbagai keterbatasan.
“Pergeseran ini bisa menjadi peluang bagi sektor logistik darat dan laut untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga kelancaran distribusi. Namun, hal itu hanya bisa optimal jika diiringi peningkatan efisiensi dan konektivitas, khususnya antara pelabuhan dan wilayah hinterland,” ujar Yukki.
Lebih jauh, kondisi ini mempertegas pentingnya percepatan pengembangan sistem logistik multimoda di Indonesia. Integrasi antara transportasi darat, laut, kereta api, dan udara kini bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama untuk menciptakan sistem logistik yang tangguh dan adaptif.
Pemanfaatan kereta api logistik, khususnya di Pulau Jawa, menjadi salah satu opsi yang masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan. Moda ini dinilai dapat menjadi solusi distribusi yang lebih efisien untuk jenis barang tertentu.
Di sisi lain, perubahan ini juga memengaruhi perilaku pelaku usaha. Para shipper kini semakin sensitif terhadap biaya dan mulai merencanakan rantai pasok dengan horizon yang lebih panjang, termasuk dengan meningkatkan cadangan stok.
Sementara itu, perusahaan logistik dan freight forwarder dituntut untuk bertransformasi. Mereka tidak lagi cukup hanya menjadi penyedia jasa angkut, tetapi harus mampu berperan sebagai mitra strategis yang menawarkan solusi logistik terintegrasi.
Pada akhirnya, tekanan yang terjadi di pasar kargo udara global bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang bagi Indonesia. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mempercepat reformasi sistem logistik nasional menuju model yang lebih efisien, terintegrasi, dan kompetitif.
“Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar respons jangka pendek terhadap kenaikan biaya, tetapi langkah strategis jangka panjang untuk membangun sistem logistik nasional yang lebih kuat dan berdaya saing,” tutup Yukki.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News