Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, mengungkapkan minat tersebut datang dari berbagai negara yang terdampak gangguan distribusi global.
“Mereka mau impor pupuk dari Indonesia, berapapun dia bayar,,” ujar Sudaryono dikutip dari Antara.
Menurutnya, setidaknya ada enam negara yang telah menunjukkan ketertarikan, di antaranya India, Brasil, Australia, dan Filipina.
Gangguan pasokan ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang turut menghambat jalur distribusi global, terutama di Selat Hormuz. Jalur ini diketahui menjadi lintasan bagi sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia.
Dampaknya langsung terasa pada harga. Data Trading Economics per 1 April 2026 menunjukkan harga urea melonjak hingga sekitar 690 dolar AS per ton, naik tajam dibandingkan awal tahun yang masih berada di kisaran 350 hingga 380 dolar AS.
Di tengah situasi tersebut, Sudaryono menilai Indonesia memiliki peluang strategis untuk berperan sebagai penyeimbang pasokan pupuk global. Hal ini dimungkinkan karena kebutuhan dalam negeri dinilai tetap terjaga.
Ia menegaskan, pemerintah telah memastikan ketersediaan pupuk, khususnya urea, untuk sektor pertanian nasional dalam kondisi aman.
“Dalam situasi krisis seperti ini, kebutuhan pupuk dalam negeri tetap bisa kami penuhi,” ujarnya.
Dengan jaminan tersebut, pemerintah juga mengimbau petani agar tidak khawatir terhadap potensi kelangkaan pupuk di dalam negeri.
Saat ini, kapasitas produksi pupuk Indonesia diperkirakan berada di kisaran 14,5 juta hingga 15 juta ton per tahun. Salah satu kontributor utama adalah PT Pupuk Indonesia yang juga aktif memasok pasar global.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyebutkan bahwa perusahaannya secara rutin mengekspor sekitar 1,5 juta hingga dua juta ton pupuk setiap tahun.
Untuk pupuk urea, produksi nasional mencapai sekitar 9,4 juta ton per tahun, sementara kebutuhan domestik berkisar tujuh juta ton. Surplus tersebut membuka ruang bagi Indonesia untuk memperluas ekspor.
Adapun pasar ekspor Pupuk Indonesia mencakup berbagai negara seperti Filipina, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, Australia, Meksiko, China, Thailand, India, Vietnam, serta kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News