Pedagang daging kerbau di Jalan Raya Bogor, Jakarta. Foto: dok MI/Mohamad Irfan.
Pedagang daging kerbau di Jalan Raya Bogor, Jakarta. Foto: dok MI/Mohamad Irfan.

Stok Melimpah, Daging Kerbau Bulog Bisa Jadi Pilihan Konsumsi saat Lebaran

Ekonomi impor Daging Sapi Bulog daging kerbau konsumsi rumah tangga Lebaran 2022
Husen Miftahudin • 27 April 2022 15:36
Jakarta: Pengamat Pertanian Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan, mendekati Lebaran harga daging sapi segar di pasaran masih cukup tinggi. Harga daging sapi bahkan mendekati Rp150 ribu per kilogram, baik dari harga di kisaran Rp120 ribu per kilogram.
 
"Saat berdiskusi dengan para asosiasi daging, sangat mungkin, mendekati Lebaran nanti harga daging sapi segar melonjak hingga Rp180 ribu per kilogram," ungkap Khudori dalam keterangan resminya, Rabu, 27 April 2022.
 
Menurut Khudori, melonjaknya harga daging sapi karena sejumlah faktor. Mulai dari pasokan dalam negeri yang tidak mencukupi, hingga mahalnya harga daging dari negara-negara eksportir. "Jadi saya enggak kaget kalau sekarang harga daging sapi tinggi," katanya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Karena itu, bagi masyarakat yang tidak bisa membeli daging sapi segar, pemerintah telah menyediakan daging kerbau beku sebagai alternatif. Di sepanjang tahun ini, Perum Bulog mendapat penugasan dari pemerintah untuk mengimpor daging kerbau beku sebanyak 100 ribu ton.
 
Dilihat dari data yang ada, kata Khudori, kebutuhan daging bulanan rata-rata 8.000 sampai 10 ribu ton. Sedangkan stok milik bulog sebanyak 36 ribu ton. "Artinya, stok daging kerbau masih cukup. Bahkan tidak hanya untuk Lebaran saja, tetapi cukup memenuhi kebutuhan daging hingga Mei dan Juni nanti," bebernya.
 
Ia meyakini, dengan ketersediaan stok yang mencukupi itu, masyarakat bisa merayakan Hari Raya Idulfitri dengan menikmati santapan yang sama nikmatnya. Apalagi harga daging kerbau beku, lebih murah dan terjangkau yaitu sebesar Rp80 ribu dibandingkan dengan daging sapi segar.
 
"Jadi, masih ada pilihan daging kerbau, sebagai alternatif. Pasti tetap ada konsumennya, ada peminatnya, meskipun enggak sebesar (konsumen) daging sapi," katanya.
 
Lebih lanjut, disampaikan keran impor daging kerbau beku mulai dilakukan pemerintah pada 2017. Dengan pertimbangan, agar harga daging sapi bisa turun ke Rp80 ribu, tergantung jenisnya. Harga ini juga mengacu pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020.
 
"Karenanya, Pemerintah mencoba mencari alternatif daging yang harganya lebih murah. Ketemulah daging kerbau, yang potensial dari India. Tetapi sejak tahun 2017 tidak pernah tercapai harga daging sapi segar sesuai acuan itu," ungkap Khudori.
 
Menurutnya, hal ini karena harga daging sapi memang sudah mahal dari negara asalnya. Begitu juga daging dari produksi lokal maupun sapi bakalan, yang dibesarkan dan dipotong di dalam negeri.
 
Belum lagi, ketika industri penggemukan sapi potong (feedloter) yang tiap tahunnya melakukan pengadaan sapi bakalan, jumlahnya juga terus turun, bahkan sebelum terjadinya pandemi covid-19.
 
Dengan kondisi tersebut, pasokan daging diharapkan bisa dipenuhi dari sapi lokal dimana banyak masyarakat yang memelihara 3-4 ekor sapi, meski bukan sebagai pekerjaan utama. Sayangnya, mereka memperlakukan sapi sebagai harta benda yang likuid sehingga kalau tidak ada keperluan penting dan mendesak, belum tentu menjual sapi meskipun harganya naik menjelang Lebaran.
 
"Sebenarnya, sapi yang siap potong itu jumlahnya banyak, tapi enggak marketable. Enggak setiap saat bisa masuk ke pasar. Itu saya kira, yang juga membuat stok terbatas dan membuat harganya jadi tinggi," jelasnya.
 
Selain itu, pemerintah juga sudah melakukan mobilisasi sapi dari sentra-sentra yang ada di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Khususnya, untuk memenuhi kebutuhan daging di Jabodetabek dan Bandung Raya, yang kebutuhan konsumsinya tinggi.
 
"Tapi, dari mobilisasi itu, kita lihat kan hasilnya juga nggak banyak. Jadi klop semuanya, pasokan dalam negeri tidak bisa menutup kebutuhan, lalu harga daging impor tinggi. Sekarang, ikut tinggi harganya," tutup Khudori.

 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif