Plt Deputi Menko Perekonomian Bidang Makro dan Keuangan Ferry Irawan memaparkan pemerintah menargetkan untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia berada pada kisaran 5,0-5,2 persen untuk semester I. Sedangkan semester II, pemerintah berharap bisa mencapai pertumbuhan ekonomi di Indonesia di angka 5,0 persen hingga 5,3 persen.
Menurut Ferry, pemerintah optimistis bisa mencapai target tersebut jika melihat situasi perkembangan positif di triwulan I. Apalagi, sejumlah strategi juga sudah disiapkan untuk mencapai target tersebut.
"Kami ingin mencapai target sesuai dengan APBN, yakni 5,3 persen. Tetapi, kami juga mencermati berbagai down sentris yang mungkin akan mempengaruhi pertumbuhan tersebut. Terutama dari sisi globalnya," ujar Ferry dalam program acara Economic Talk dengan tema 'Perekonomian Indonesia Semester II 2023' di Metro TV pada Kamis, 20 Juli 2023.
"Optimisme bahwa perekonomian kita masih bisa tumbuh dengan melihat berbagai indikator dan strateginya pemerintah. Kami juga memperhitungkan berbagai faktor risiko ke bawah yang mungkin akan mempengaruhi bagaimana ekonomi kita ke depan," tambahnya.
Kemenko Perekonomian juga mempersiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi ancaman resesi ekonomi. Ada dua strategi yang dipersiapkan, yakni mengoptimalkan ekonomi domestik dan menjaga ketahanan sektor eksternal.
"Untuk domestik, yang menjadi komponen terbesar kita adalah growth, terutama growth rumah tangga. Kami menjaga agar confidence masyarakat agar bisa tetap tumbuh dan cukup punya daya beli," kata Ferry.
"Juga kemudian kalau dilihat dari tren ke depan, ekspektasi pendapatan dari masyarakat kami harapkan meningkat. Jadi kami harapkan bisa tetap menjaga konsumsi masyarakat pada level yang cukup tinggi," tuturnya lagi.
Pada kesempatan itu, Ferry menjelaskan salah satu faktor yang juga memberikan dampak untuk pertumbuhan ekonomi adalah Pemilu 2024. Menurutnya, pemilu akan mendorong kenaikan konsumsi masyarakat.
"Pemilu adalah bagian dari proses reguler kita, baik konstitusional. Jadi itu satu hal yang memang yang harus kita lakukan. Nah di catatan kami, secara siklus kalau kita lihat biasanya konsumsi menjelang atau pada saat pemilihan, kampanye, dan sosialisasi, ini akan mendorong kenaikan konsumsi masyarakat," paparnya.
Terutama untuk sektor-sektor yang terkait langsung. Misalnya, penyiapan baliho, iklan, dan lainnya. Pada saat menjelang atau hari pemilu, ada lonjakan dalam hal konsumsi masyarakat.
“Ini merupakan bagian dari peningkatan aktivitas ekonomi kita di semester II, menjelang Pemilu 2024," kata Ferry.
Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga dikemukakan oleh Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia Piter Abdullah. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di Tanah Air pada triwulan II mencapai 5,1 persen.
"Untuk triwulan II, saya memperkirakan di kisaran 5,1 persen, lebih tinggi daripada triwulan I. Tapi kenaikan di triwulan II tidak akan jauh lebih besar, yakni sekitar 5,1 persen. Saya memperkirakan pada 2023, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi di Indonesia berada di kisaran 5,1-5,2 persen," ujar Piter.
Piter menilai statistik positif pertumbuhan ekonomi di Indonesia ini terjadi berkat peningkatan dalam faktor domestik demand, khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi. Bahkan, kontribusinya mencapai 80 persen.
"Jadi walaupun kita memang harus mengantisipasi gejolak global, strategi pemerintah fokus kepada menjaga perekonomian domestik yang menjaga permintaan domestik itu sudah cukup tepat. Karena memang struktur ekonomi di Indonesia sudah seperti itu," kata Piter.
Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan juga menjadi sektor yang memberikan dampak positif untuk pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
"Dan itu wajar karena ini adalah awal dari proses pemulihan ekonomi kita di mana kita benar-benar masyarakat sudah lepas dari kekhawatiran terhadap pandemi sehingga mereka mulai keluar, mulai jalan, wisata kita sudah mulai penuh," tambahnya.
Ekspor juga menjadi salah satu faktor yang akan membuat perekonomian di Indonesa tumbuh ke depannya, khususnya semester II-2023.
"Untuk ekspor juga mengalami pertumbuhan tinggi 11,68 persen untuk tahun ini," ucap Piter.
Piter juga menjelaskan ada kondisi moneter yang juga mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal itu mengacu pada nilai tukar rupiah yang menguat di Indonesia sebesar 4,8 persen pada Juni 2023. Penyebabnya adalah kebijakan yang diberikan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed).
"Nilai tukar kita ini menarik. Mengalami penguatan beberapa periode terakhir ini yang sempat pernah menyentuh di bawah Rp15 ribu. Itu lebih disebabkan ekspektasi terkait dengan kebijakan suku bunga yang ada di The Fed," katanya.
Piter menjelaskan tingkat inflasi di Amerika sudah turun di kisaran 3 persen. Walaupun masih dikategorikan tinggi, inflasi di Amerika terbilang cukup turun drastis. Terutama jika melihat peak-nya. Hal ini menjadi kabar cukup positif karena memberikan peluang bagi The Fed untuk menahan kenaikan suku bunga.
"Bahkan sudah bisa memulai untuk menurunkan suku bunganya. Sekarang ini suku bunganya sudah sangat tinggi," lanjut Piter.
"Antara suku bunga acuan The Fed dengan suku bunga acuan BI sudah tipis sekali. Ini sebuah rekor baru, di mana kita tidak pernah mengalami pada periode-periode sebelumnya, antara suku bunga acuan BI dengan suku bunga acuan The Fed sedekat itu," kata Piter.
Dengan adanya kebijakan The Fed menurunkan suku bunga, membuka peluang dalam hal spread melebar dan memberikan aliran modal ke negara-negara berkembang. Termasuk di Indonesia.
"Kalau kita bandingkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, memiliki prospek yang baik, Indonesia memiliki peluang untuk bisa mendapatkan aliran modal yang lebih baik dibandingkan negara-negara berkembang lainnya," katanya.
Tak hanya itu. Penurunan suku bunga yang dilakukan The Fed juga akan membuat Bank Indonesia berpeluang melakukan hal serupa.
"Kalau seandainya The Fed sudah mulai menurunkan suku bunga, ada peluang BI menurunkan suku bunga. Terakhir, ketika The Fed masih menaikkan suku bunga yang terakhir, BI kembali berani untuk menahan suku bunganya. Padahal, pada waktu itu, spread suku bunga sudah sangat tipis. Perbedaan suku bunga acuan BI dengan suku bunga acuan The Fed sudah sangat tipis," tuturnya.
Sektor Riil Perlu Diperhatikan
Catatan positif pertumbuhan ekonomi di Indonesia mendapat apresiasi dari ekonom senior Aviliani. Ia memuji upaya-upaya yang dilakukan pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sektor moneter dan fiskal.
"Di sini saya melihat yang banyak bekerja di kebijakan moneter. Terutama adalah mengendalikan inflasi dan suku bunga. Untuk fiskal, selama ini juga ada pengendalian terhadap inflasi terkait dengan subsidi BBM dan juga distribusi pangan salah satunya. Ini bagus karena bisa menjaga inflasi kita," kata Aviani.
Namun, menurut Aviani, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan agar pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa lebih baik lagi. Terutama pada sektor riil. Hal ini berkaitan dengan faktor kesenjangan perekonomian masyarakat bawah.
"Yang harus diperhatikan saat ini dan ke depan adalah justru dengan pertumbuhan ekonomi 5 persen, terlihat masih terjadi kesenjangan. Satu kesenjangannya adalah di mana kalau kita melihat angkatan kerja kita sebanyak dua setengah juta, hampir satu setengah juta di antaranya itu adalah SMA. Ini yang menjadi problem itu," lanjutnya.
Menurut Aviani, masyarakat bawah perlu diperhatikan. Dengan meningkatkan dan membantu ekonomi masyarakat bawah, pertumbuhan ekonomi di Indonesia semakin baik.
"Karena kalau melihat beban dari masyarakat kelas di bawah ini lah yang menjadi peran. Akibatnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia jadi tidak merata. Itu menjadi PR besar menurut saya untuk saat ini dan ke depan," kata Aviani.
Salah satu bentuk bantuan yang dilakukan adalah menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat bawah. Ia menilai penciptaan lapangan kerja lebih baik ketimbang hanya memberikan bantuan berupa BLT (Bantuan Langsung Tunai).
"Untuk konsumsinya mereka lah yang punya peran besar. Kita masih punya 40 persen yang belum digerakkan. Jadi saran saya, bukan hanya modal BLT. Karena modal dari BLT itu membahayakan. Tetapi yang harus dilakukan adalah penciptaan lapangan kerja," tutur Aviani.
Dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia, perbankan menjadi salah satu faktor penting. Perbankan turut aktif dalam membantu pertumbuhan ekonomi. Seperti halnya yang dilakukan Bank Mandiri.
Beberapa langkah sudah dipersiapkan Bank Mandiri untuk tetap bertahan sekaligus mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Termasuk memitigasi risiko seperti resesi yang diakibatkan konflik geopolitik.
"Secara umum, perbankan terutama di Bank Mandiri, kami sudah pantau sejak akhir tahun lalu. Kalau kita bicara resesi sebenarnya bukan sesuatu barang yang unpredictable," kata Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro.
"Tapi yang perlu kita perhatikan mengenai trajectory ke depan supaya kita tidak kehilangan momentum ketika terjadi recovery atau memitigasi risiko," tuturnya.
Andry menilai kesiapan perbankan dalam memitigasi risiko sudah bukan lagi hal yang baru dilakukan. Bahkan, hal tersebut sudah dilakukan sejak era krisis ekonomi pada 1998 dan 2008.
Dalam memitigasi risiko, ada skema yang disiapkan perbankan, yakni melakukan stress test. Hal tersebut dilakukan dengan skenario yang beragam.
"Skenarionya semakin beragam bahkan saat ini, bersama dengan OJK sudah melakukan early stress test untuk memitigasi 4 dari climate change, misalnya," kata Andry.
"Jadi dengan kesiapan yang seperti itu, saya rasa, gejolak yang besar pun, perbankan sudah siap menghadapinya dengan mitigasi risiko yang kuat. Tentu saja, saat ini bank akan lebih selektif dengan melihat sektor-sektor mana yang sektor yang relatif memiliki risiko, mana yang memang tetap memiliki peluang," ucap Andry menambahkan.
Selain itu, kegiatan transaksi juga menjadi salah satu langkah perbankan menjaga kestabilan ekonomi. Menurutnya, transaksi menjadi salah satu penopang profit untuk perbankan.
"Transaksi itu menjadi salah satu dorongan. Ketika perekonomian bertumpu tentu saja transaksi akan meningkat dan ini menjadi salah satu penopang profitnya dari sisi perbankan sendiri," kata Andry.
Pada kesempatan itu, Andry juga berbicara mengenai sektor-sektor kuat yang kemungkinan memperkuat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Ia menilai sektor food and beverages akan memberikan dampak besar pada perekonomian Indonesia.
"Kalau kita bicara pertanyaan tentang sektor mana di Indonesia secara fundamental selalu menarik ya. Kita lihat saja tadi dari Data Mandiri Spending Index, lebih dari 35 persen belanja masyarakat lari kepada food and beverages related," katanya.
Setelah itu ada sektor fesyen yang berkaitan dengan pakaian. "Di bawah dari food and beverages itu lari kepada clothing, yang artinya proxy kita untuk fesyen. Tapi itu proxy untuk yang pakaian," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News