Fenomena ini semakin sering dibicarakan karena membuat pekerja tetap berada di pekerjaannya, tetapi mulai menarik diri dari berbagai hal di luar tanggung jawab utama. Dikutip dari unggahan Instagram Kementerian Ketenagakerjaan (@kemnaker) pada Rabu, 19 Agustus 2026, quiet quitting tidak berarti seseorang benar-benar mengundurkan diri, melainkan kondisi ketika pekerja memilih mengerjakan tugas sesuai tanggung jawabnya tanpa memberikan kontribusi tambahan.
Istilah quiet quitting memang secara harfiah dapat diartikan sebagai “berhenti diam-diam”, tetapi maknanya bukan seorang karyawan menghilang atau mengajukan surat pengunduran diri tanpa pemberitahuan. Fenomena ini merujuk pada kondisi ketika seseorang tetap bekerja, tetapi hanya melakukan tugas yang secara spesifik menjadi tanggung jawabnya tanpa keinginan untuk memberikan usaha ekstra.
Dalam kondisi tersebut, pekerja tidak lagi menawarkan diri untuk lembur secara sukarela, memberikan ide di luar pekerjaan utama, atau mengambil tanggung jawab tambahan yang sebenarnya tidak diwajibkan. Bukan berarti pekerja otomatis malas, karena quiet quitting bisa menjadi respons ketika energi, apresiasi, dan motivasi yang diberikan perusahaan terasa tidak lagi sebanding dengan tuntutan pekerjaan.
Kenali Tanda Quiet Quitting Mulai Terjadi
Ada beberapa perubahan perilaku yang bisa menjadi sinyal seseorang mulai mengalami quiet quitting, salah satunya adalah pekerjaan hanya dikerjakan sekadar memenuhi standar. Tugas memang selesai tepat waktu, tetapi tidak ada lagi dorongan untuk memberikan kreativitas, nilai tambah, atau usaha lebih dari yang diwajibkan.Tanda lainnya adalah respons komunikasi yang semakin terbatas, merasa keberatan ketika mendapat tugas di luar deskripsi pekerjaan, serta munculnya pola pikir “yang penting beres” tanpa terlalu memikirkan dampaknya terhadap perkembangan karier. Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, kondisi ini layak menjadi bahan evaluasi karena bisa menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam di lingkungan kerja.
| Baca Juga: Apa Itu Quiet Quitting? Fenomena yang Bikin Karyawan 'Berhenti Diam-Diam' |
Penyebab Quiet Quitting Tak Selalu Berasal dari Pekerja
Quiet quitting juga tidak bisa begitu saja dikaitkan dengan karakter pekerja yang dianggap tidak tahan banting, apalagi hanya dilekatkan pada generasi tertentu seperti Gen Z atau milenial. Fenomena ini dapat dialami siapa saja, mulai dari karyawan baru hingga profesional berpengalaman, terutama ketika pekerjaan mulai terasa tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan.Menurut informasi dari @kemnaker, beberapa kondisi yang dapat mendorong munculnya quiet quitting antara lain arah pekerjaan yang tidak jelas, minimnya apresiasi, rendahnya dukungan dari atasan, hingga batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan yang semakin kabur. Kalau sistem terus meminta lebih banyak tetapi tidak memberikan ruang untuk bertumbuh dan beristirahat, jangan heran kalau pekerja akhirnya memilih mengerem.
Pekerja dan Atasan Sama-Sama Punya Peran
Mengatasi quiet quitting tidak cukup hanya dengan meminta pekerja kembali bersemangat dan memberikan usaha lebih. Dari sisi pekerja, langkah yang dapat dilakukan antara lain menyusun kembali prioritas, menyampaikan batasan secara sehat, serta meminta arahan yang lebih jelas ketika pekerjaan atau target yang diberikan mulai terasa membingungkan.Sementara itu, atasan juga perlu mengambil bagian dengan menjelaskan tujuan pekerjaan secara transparan, memberikan apresiasi dan feedback positif, serta memastikan anggota tim mendapatkan dukungan ketika menghadapi kendala. Pada akhirnya, dunia kerja yang sehat bukan tentang siapa yang paling lama bertahan atau paling banyak bekerja, tetapi bagaimana pekerjaan tetap berjalan tanpa membuat orang di dalamnya kehilangan dirinya sendiri.
Quiet Quitting Bisa Jadi Sinyal untuk Berhenti Sejenak
Quiet quitting tidak selalu berarti seseorang tidak peduli terhadap pekerjaannya, tetapi dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu dievaluasi dalam hubungan antara pekerja dan lingkungan kerja. Kelelahan, minim apresiasi, kurangnya dukungan, serta batas kerja dan kehidupan pribadi yang tidak sehat dapat membuat seseorang perlahan memilih untuk hanya melakukan apa yang diwajibkan.Karena itu, mengenali tanda-tandanya sejak awal menjadi penting, baik bagi pekerja maupun atasan. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda