Ilustrasi pekerja tambang batu bara - - Foto: dok AFP
Ilustrasi pekerja tambang batu bara - - Foto: dok AFP

Pertumbuhan Sektor Pertambangan Diramal Tak akan Masif

Annisa ayu artanti • 28 Mei 2021 20:42
Jakarta: Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia memprediksi pertumbuhan sektor pertambangan di masa depan tidak akan semasif tahun-tahun sebelumnya. Bahkan tahun ini, sektor pertambangan hanya bisa tumbuh sekitar dua persen.

Strategic Transformation Expert Willem Makaliwe mengatakan sepanjang 2018 dan 2019 pertumbuhan sektor pertambangan terhambat harga komoditas. Sedangkan di masa depan pertumbuhan sektor ini masih akan dipengaruhi oleh efek pandemi covid-19.
 
"Proyeksinya untuk sektor pertambangan, dalam estimasi kami di 2021 walaupun keadaannya membaik itu gak mungkin heboh-heboh. Bertumbuh dua persen itu sudah bagus, meskipun keadaannya kembali pulih," kata Willem dalam diskusi virtual, Jumat, 28 Mei 2021.
 
Global Business Expert R Nugroho Purwantoro juga memandang sektor pertambangan di masa depan dihadapi tantangan yang cukup besar meskipun tidak menampik juga bahwa demand terhadap energi terus meningkat.

Di Indonesia, kebutuhan energi untuk sektor kelistrikan diprediksi akan meningkat seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi.

 
"Pandangan jangka panjang terutama untuk batu bara dan sektor kelistrikan. Jadi disini ada dua hal, kalau kita lihat demand maka kita optimistis karena demand untuk energi seperti negara Indonesia itu akan tumbuh karena ekonomi kita akan tumbuh. Jadi kebutuhan akan listrik akan terus ada," jelas Nugroho.
 
Namun tantangan yang dihadapi adalah isu ESG (environmental, social and governance) yang saat ini telah menjadi isu global. Pertambangan batu bara yang banyak di Indonesia diprediksi akan kalah bersaing dengan energi bersih.
 
"Masalahnya adalah yang menjadi problem masa depan energi itu lebih clean tidak lagi mengeluarkan polusi dan emisi. Nah ini tantangan kita. kita fokusnya batubara karena memang paling banyak ketersediaannya.Hanya saja batu bara kalau ngomong clean dia paling dirty," ujarnya.
 
Menurutnya, perlu upaya khusus untuk meyeimbangkan dan menggairahkan industri tambang batu bara di saat penerapan praktik ESG.
 
Upaya tersebut setidaknya bisa membuat harga listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik berbahan baku batu bara bisa bersaing kompetitif dengan pembangkit listrik ramah lingkungan.

 
"Ini yang nanti game changer-nya adalah apakah nanti karbon itu akan dikenakan price atau tax dan itu berlaku global. Kalau itu muncul maka otomatis nanti posisi clean energy belum cost kompetitif, itu nanti akan bersaing dan coal untuk bertahan harus menambah investasi," pungkasnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(Des)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan