Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) - - Foto: MI/ Ramdani
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) - - Foto: MI/ Ramdani

PLTU Sumsel 8 Pangkas 50% Emisi Karbon

Ekonomi PLTU net zero emission Emisi Karbon Nol Emisi Karbon
Antara • 20 November 2021 14:30
Palembang: Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) mulut tambang Sumsel 8 kapasitas 2x660 Megawatt di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, diklaim mampu menekan emisi karbon hingga 50 persen.
 
Deputy General Manager PT Huadian Bukit Asam Power Gusti Prasetyo Rendy Anggara mengatakan PLTU yang ditargetkan tuntas pembangunannya pada Maret 2022 ini menggunakan teknologi penangkap karbon dan desulfurisasi gas buang.

 
Penggunaan teknologi ini sebagai upaya untuk membantu pemerintah dalam menerapkan komitmen net zero emission pada 2060. Teknologi tersebut merupakan reaksi kimia pengolahan limbah sehingga dalam prosesnya gas emisi yang dikeluarkan bisa sangat rendah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hasil dari penangkapan karbon dan desulfurisasi ini bahkan bisa akan menghasilkan zat kimia yang bisa menjadi gypsum.
 
“Adanya zat ini tentu bisa menghasilkan beragam produk turunan seperti gypsum dan juga formula yang terkandung dalam pembuatan semen,” kata Gusti dikutip Sabtu, 20 November 2021.
 
Tindakan lain adalah menciptakan ruang terbuka hijau di sekitar PLTU sehingga jumlah emisi juga bisa terus ditekan. Proses tekanan emisi tentu sudah menjadi prioritas PLTU bisa lebih ramah lingkungan.
 
“Setidaknya PLTU ini memenuhi standar baku mutu yang sudah ditetapkan oleh pemerintah,” jelas Gusti.
 
Hingga kini, pembangunan PLTU mulut tambang terbesar di kawasan Asia Tenggara ini sudah mencapai 92,84 persen. Ini juga termasuk pembangunan 99 unit tower transmisi ke gardu PLN sejauh 45 kilometer (km).
 
“Dengan progres ini, pembangunan PLTU ini akan selesai pada 7 Maret 2022,” ucapnya.
 
Jika PLTU beroperasi  akan berkontribusi terhadap proyek tol listrik yang akan mengaliri listrik hingga ke Sumatera Utara yang saat ini masih mengalami krisis listrik. Tidak hanya itu, PLTU ini akan menekan ongkos produksi karena jarak antara tambang batubara dengan PLTU dapat dipangkas.

 
Nantinya, batu bara yang menjadi bahan bakar PLTU hanya akan dikirim menggunakan conveyor belt dari kawasan pertambangan PT Bukit Asam di Izin Usaha Pertambangan Bangko Tengah yang berjarak sekitar dua kilometer dari PLTU Sumsel 8.
 
"Harga jual listrik yang sudah disepakati sekitar 4,9 sen per kWh (kilowatt/jam). Ini jauh lebih murah dibanding PLTU non mulut tambang yang bisa lebih mahal hingga 2 sen per kWh," tambah dia.
 
Senior Manager Penambangan PT Bukit Asam Eko Pujiantoro menambahkan, PTBA memiliki lima IUP seluas sekitar 43.000 Hektare. Dari kelima IUP itu produksi batubara bisa mencapai 30 juta ton hingga akhir tahun 2021. Jika dibandingkan produksi batu bara di Kalimantan memang masih jauh tertinggal. Hal ini itu disebabkan jarak antara tambang dengan pasar sangat lah jauh.
 
“Selama ini PTBA menyalurkan batu baranya melalui pelabuhan di Tarahan Lampung dan dermaga di Kertapati Palembang,” kata dia.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif