Maskapai AirAsia. Foto: AirAsia
Maskapai AirAsia. Foto: AirAsia

Cara AirAsia Indonesia Pangkas Kerugian saat Harga Avtur Melonjak

Annisa ayu artanti • 28 Juli 2026 20:57
Ringkasnya gini..
  • AirAsia Indonesia memangkas kerugian operasional meski harga avtur melonjak 46,7 persen pada semester I 2026.
  • Efisiensi operasional membantu AirAsia Indonesia menekan kerugian di tengah kenaikan biaya bahan bakar.
Jakarta: PT AirAsia Indonesia Tbk (AAID) masih menghadapi tekanan berat pada paruh pertama 2026. Lonjakan harga avtur global dan pelemahan nilai tukar rupiah membuat biaya operasional maskapai meningkat tajam. Namun, perusahaan berhasil menekan kerugian operasional melalui strategi efisiensi dan optimalisasi rute penerbangan.
 
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian semester selama semester pertama 2026, lonjakan harga avtur dunia sebesar 46,7 persen (year on year/YoY) memicu pembengkakan biaya bahan bakar maskapai hingga 26,1 persen, menjadi Rp1,99 triliun. 
 
Kondisi ini makin menantang akibat rupiah yang melemah 5 persen terhadap dolar AS. Namun, lewat penataan rute penerbangan dan efisiensi biaya yang ketat, Indonesia AirAsia berhasil meredam dampak tersebut. 

Hasilnya, kerugian operasional perseroan berhasil dipangkas 6,9 persen menjadi Rp678,4 miliar. Total pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp3,91 triliun, turun tipis 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,98 triliun. 
 
Penyesuaian ini merupakan hasil dari langkah terukur Indonesia AirAsia dalam mengelola kapasitas, di mana perusahaan memprioritaskan rute-rute yang menguntungkan dibanding sekadar mengejar volume penumpang.
 
Baca juga: Mulai 1 Juli, AirAsia Hentikan Penerbangan Langsung Singapura-Jakarta

“Semester pertama 2026 menjadi periode ujian bagi daya tahan industri penerbangan global dalam menghadapi lonjakan biaya operasional. Alih-alih mengejar volume penumpang yang tidak efisien, Indonesia AirAsia bergerak cepat menyesuaikan kapasitas, memangkas rute yang kurang potensial, dan menyesuaikan harga tiket dengan tetap mempertahankan load factor," kata Direktur Utama PT AirAsia Indonesia Tbk (AAID/CMPP), Captain Achmad Sadikin Abdurachman dalam keterangan tertulis, Rabu, 28 Juli 2026.
 
Penjualan tiket penerbangan Indonesia AirAsia berkontribusi sebesar Rp3,31 triliun. Sementara itu, pendapatan dari layanan tambahan (ancillary revenue) menyumbang Rp595 miliar, didorong oleh layanan bagasi, makanan dalam pesawat (in-flight meals), penerbangan charter, serta kargo udara.
 
Indonesia AirAsia menyesuaikan total kapasitas penerbangan menjadi 3,44 juta kursi (turun 4,2 persen) dengan menata ulang rute dan alokasi pesawat. 
 
Lalu, untuk mengimbangi lonjakan harga avtur, harga tiket rata-rata dinaikkan 4,9 persen menjadi Rp1,13 juta. Langkah ini berhasil menaikkan Revenue per Available Seat Kilometer (RASK) sebesar 17,4 persen menjadi Rp854, yang menunjukkan kualitas pendapatan perusahaan makin membaik. 
 
Di sisi lain, minat terbang masyarakat tetap tinggi, terbukti dari 2,83 juta penumpang yang terangkut dalam 19.125 penerbangan, dengan tingkat keterisian pesawat (Load Factor) yang bertahan tinggi di angka 82 persen.
 
Dari sisi pengelolaan biaya, Perseroan terus menerapkan disiplin anggaran yang ketat. Hal ini terlihat dari Cost per Available Seat Kilometer (CASK ex-fuel) yang berhasil ditekan sebesar 1,2 persen. 
 
Efisiensi internal ini efektif meredam lonjakan beban operasional, sehingga Perseroan sukses memangkas kerugian (di luar pengaruh selisih kurs) sebesar 6,9 persen.
 
"Fokus kami pada efisiensi biaya internal, terutama pemangkasan anggaran pemasaran non-esensial dan penataan jadwal perawatan pesawat, berhasil menurunkan biaya operasional sebesar 2,2 persen sekaligus menekan kerugian operasional utama kami di 6,9 persen," tuturnya. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan