CEO Telkomcel Yogi R Bahar mengatakan aset induk usaha Telkom yang berada di negara tersebut diambil alih oleh pemerintah setempat setelah Timor Leste merdeka pada 1999 lalu.
Setelah diambil alih, hanya ada satu operator telekomunikasi existing lokal yang diizinkan beroperasi di Timor Leste. Sayangnya, harga yang dikenakan operator tersebut sangat mahal sehingga mendapat protes dari masyarakat. Masyarakat Timor Leste pun meminta kehadiran operator lain agar tidak terjadi monopoli harga.
"Masyarakat protes dan minta another operator harus masuk, maka 2012 kita dirikan Telkomcel," kata Yogi dalam acara Indonesia Muda Club, Jumat, 24 Juli 2020.
Yogi mengungkapkan saat pertama beroperasi, pelanggan Telkomcel mencapai 300 ribu orang dari total jumlah penduduk di Timor Leste yang 1,2 juta orang. Kini Telkomcel pun berupaya berada diperingkat pertama untuk mengalahkan operator lokal dan operator asal Vietnam, Viettel.
"Growth-nya luar biasa, sekarang kita menuju juara satu, mudah-mudahan kita jadi the best operator di Timor Leste," ujar Yogi.
Meski demikian, Telkomcel disebut bukan hanya mengejar target bisnis dan penjualan, tapi juga membangun kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal Timor Leste. Hampir semua unit manager di sana merupakan asli Timor Leste.
"Sekarang total pegawai 200 orang, waktu pertama masuk 100-an, awal datang kita 50:50 dengan SDM sana. Jadi kita memberi laoangan kerja ke teman-teman Timor Leste," jelas Yogi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News