Ilustrasi ekspr unggas. Foto: MI.
Ilustrasi ekspr unggas. Foto: MI.

Surplus Ayam & Telur, RI Cuan dari Ekspor Unggas Rp18,2 Miliar

Arif Wicaksono • 20 April 2026 11:39
Ringkasnya gini..
  • Kementerian Pertanian mencatat, hingga Maret 2026 nilai ekspor komoditas unggas telah mencapai Rp18,2 miliar dengan volume sekitar 545 ton.
  • Dari total pengiriman tersebut, sebagian besar merupakan telur konsumsi dengan volume mencapai 517 ton atau setara 8,13 juta butir. Sisanya terdiri dari daging ayam dan produk olahan bernilai tambah.
Jakarta: Kinerja ekspor unggas Indonesia menunjukkan tren penguatan sepanjang 2026. Kementerian Pertanian mencatat, hingga Maret 2026 nilai ekspor komoditas unggas telah mencapai Rp18,2 miliar dengan volume sekitar 545 ton. Capaian ini menjadi indikasi kuat bahwa produksi domestik berada dalam kondisi surplus.
 
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut ekspor tersebut tidak lepas dari meningkatnya daya saing produk peternakan nasional di pasar global. Negara tujuan utama antara lain Singapura, Jepang, dan Timor Leste.
 
Baca juga: Amran Sebut RI Sudah Swasembada, El Nino Bukan Lagi Ancaman Besar?    

“Pada Maret 2026, Indonesia telah mengekspor 545 ton produk unggas dengan nilai sekitar Rp18,2 miliar,” ujar Amran dikutip dari Antara
 
Dari total pengiriman tersebut, sebagian besar merupakan telur konsumsi dengan volume mencapai 517 ton atau setara 8,13 juta butir. Sisanya terdiri dari daging ayam dan produk olahan bernilai tambah.

Tren ekspor unggas terus naik

Kementerian Pertanian mencatat laju ekspor unggas Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, volume ekspor berada di kisaran 300 ton dengan nilai sekitar Rp11 miliar. Angka itu naik pada 2025 menjadi sekitar 400 ton dengan nilai Rp13–15 miliar, sebelum kembali melonjak pada awal 2026.

Kenaikan ini mencerminkan konsistensi peningkatan produksi sekaligus perluasan pasar luar negeri untuk komoditas peternakan nasional.
 
Lonjakan ekspor tersebut ditopang oleh kondisi produksi dalam negeri yang relatif lebih besar dibandingkan konsumsi. Produksi ayam ras nasional tercatat mencapai 4,29 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 4,12 juta ton. Untuk telur ayam ras, produksi mencapai 6,54 juta ton dengan konsumsi sekitar 6,47 juta ton.
 
“Dengan kondisi surplus ini, Indonesia memiliki ruang untuk memperluas ekspor tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri,” kata Amran.
 
Selain peningkatan volume, pemerintah juga melihat adanya perubahan struktur ekspor unggas, yang kini mulai bergeser ke produk olahan seperti nugget dan karaage. Pergeseran ini dinilai penting karena memberikan nilai tambah lebih tinggi bagi industri peternakan nasional.
 
Kementerian Pertanian juga memperkuat aspek teknis seperti kesehatan hewan, biosekuriti, serta sertifikasi veteriner agar produk unggas Indonesia memenuhi standar internasional. Di sisi lain, diplomasi perdagangan terus diperluas untuk membuka pasar baru.

Target jangka panjang ekspor unggas

Ke depan, pemerintah menargetkan nilai dan volume ekspor unggas terus meningkat melalui penguatan industri hilir serta efisiensi rantai pasok. Langkah ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas harga di tingkat peternak, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan pangan global.
 
“Indonesia kini bukan hanya swasembada, tetapi mulai tampil sebagai salah satu eksportir unggas yang diperhitungkan di pasar dunia,” ujar Amran.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan