Foto: dok MRT.
Foto: dok MRT.

Kontraktor Jepang Tak Tertarik Garap Pengadaan Kereta MRT Jakarta

Ekonomi mrt Proyek MRT transportasi
Syah Sabur • 20 Oktober 2020 08:17
Jakarta: Hingga kini belum ada kontraktor Jepang yang berminat untuk proyek pengadaan kereta atau rolling stock MRT Jakarta fase dua. Padahal, PT MRT Jakarta sudah melakukan market sounding untuk para kontraktor Jepang.
 
Menurut Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar, kontraktor utama memang harus dari Jepang sesuai dengan kontrak awal, yang didukung kontraktor Indonesia. Market sounding sudah dilakukan pada 26 Februari dengan diikuti lima perusahaan. Tapi hasilnya, ke-5 perusahaan itu menyatakan tidak tertarik untuk pengadaan enam train set.
 
"Mengapa 6? Karena memang rencana dari Bundaran HI-Kota (Fase II), kita hanya butuh tambahan enam train set," ungkap William, dalam diskusi virtual, Senin, 19 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Proyek MRT Jakarta ini memang didanai oleh pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan mekanisme Special Terms for Economic Partnership (STEP) Loan atau Tied Loan. Dengan demikian, kontraktor utama diwajibkan berasal dari Jepang.
 
Direktur Konstruksi MRT Jakarta Sylvia Halim mengatakan komposisi kontraktor utama minimal 50 persen plus satu persen. Sisanya hanya bisa diambil kontraktor lokal dan tidak boleh dimasuki kontraktor negara lain.
 
Selanjutnya, jelas William, pada saat market sounding kedua, MRT Jakarta menawarkan proyek pengadaan 14 train set yang akan digunakan sampai proyek Fase II-B yakni Kota-Ancol Barat. Namun, para kontraktor Jepang masih juga tak berminat.
 
"Karena itu digabung dengan Fase II-B. Ini dilakukan virtual dengan manufaktur dan trading company di Jepang. Kemudian manufaktur dan perusahaan dagang merespons negatif, karena semua pihak menyatakan tidak tertarik dan adanya gap dalam jadwal Fase II-A (Bundaran HI-Kota) dan Fase II-B. Karena memang ada gap antara Fase II-A dan II-B. Selain itu, market Jepang sedang punya pekerjaan, baik di Jepang, maupun di luar Jepang," terang William.
 
Silvia juga mengungkapkan para kontraktor/manufaktur pembuat kereta di Jepang sangat sibuk melayani pesanan dari berbagai negara yang jumlahnya ratusan unit. Menurutnya, para kontraktor kurang berminat jika membandingkan dengan pesanan Indonesia yang jumlahnya jauh lebih sedikit.
 
"Proyek kereta di Manila sendiri saja mereka memesan 300 kereta. Serta juga ada beberapa proyek dan pemesanan dari Amerika Serikat (AS). Ya jadi mereka lebih fokus pada semua proyek itu, dan itu baru sebagian yang saya sebutkan. Itu membuat market Jepang sangat padat. Tentu saja proyek lain lebih menarik buat kontraktor Jepang jika diibandingkan order-order kita. Maka wajar mereka tidak tertarik dengan proyek MRT ini," beber Silvia.
 
Karena itu William berharap para kontraktor Jepang bisa lebih serius dan meningkatkan minat para proyek MRT Jakarta ini. Apalagi, MRT Jakarta ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
 
"Nah ini memang penting sekali kita berharap perhatian kontraktor-kontraktor Jepang lebih serius di Indonesia mengingat ini PSN," tutup William.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif