| Baca juga: Dari Jalanan ke Sawah, Kisah Petani Punk Gunungkidul yang Kini Pasok Dapur MBG |
Kenaikan NTP tersebut menjadi sinyal bahwa pendapatan yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya produksi maupun pengeluaran rumah tangga yang mereka keluarkan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyambut positif capaian tersebut.
Menurutnya, peningkatan NTP mencerminkan membaiknya kondisi ekonomi petani sekaligus menunjukkan bahwa berbagai program penguatan sektor pertanian mulai memberikan hasil nyata di lapangan.
"Alhamdulillah, kenaikan NTP menjadi kabar baik bagi petani Indonesia. Ini menunjukkan pendapatan petani meningkat dan hasil kerja keras mereka semakin memberikan nilai tambah," ujar Amran dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Amran menjelaskan, NTP merupakan salah satu indikator utama untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. Semakin tinggi nilai NTP, semakin kuat pula daya beli petani karena pendapatan yang diperoleh meningkat lebih cepat dibandingkan pengeluaran yang harus ditanggung.
Pemerintah, kata dia, akan terus berupaya menjaga agar petani memperoleh keuntungan yang layak dari usaha taninya. Berbagai program strategis yang dijalankan Kementerian Pertanian selama dua tahun terakhir disebut berkontribusi terhadap peningkatan tersebut.
Program tersebut meliputi perluasan areal tanam, optimalisasi lahan pertanian, rehabilitasi dan normalisasi jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, bantuan alat dan mesin pertanian, hingga penguatan pendampingan kepada petani di sentra-sentra produksi.
Selain itu, Amran menyoroti kinerja subsektor hortikultura yang menjadi penyumbang terbesar kenaikan NTP nasional. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan besarnya potensi komoditas hortikultura dalam menggerakkan perekonomian perdesaan.
"Kami tidak hanya fokus meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan hasil panen memiliki nilai ekonomi yang baik. Ketika produktivitas meningkat dan harga di tingkat petani membaik, kesejahteraan petani juga akan ikut naik," katanya.
Ia menegaskan Kementerian Pertanian akan terus memperkuat berbagai program yang berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan petani. Di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi global, sektor pertanian Indonesia dinilai tetap mampu menjaga pertumbuhan dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
Sementara itu, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan bahwa kenaikan NTP pada Mei 2026 dipicu oleh peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (IT) yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (IB).
BPS mencatat IT naik sebesar 2,53 persen, sedangkan IB hanya meningkat 0,53 persen.
"Kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani meningkat lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayarkan petani," ujar Pudji saat menyampaikan rilis resmi BPS.
Menurut BPS, penguatan harga sejumlah komoditas utama menjadi faktor pendorong utama kenaikan pendapatan petani. Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar antara lain karet, gabah, kakao biji, serta bawang merah.
Dari seluruh subsektor pertanian, hortikultura mencatat peningkatan tertinggi dengan kenaikan NTP sebesar 7,08 persen selama Mei 2026. Kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani hortikultura melonjak 7,52 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani hanya naik 0,41 persen.
Bawang merah, cabai rawit, cabai merah, dan tomat menjadi komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan pendapatan petani hortikultura.
Meningkatnya harga berbagai komoditas tersebut membuat penerimaan petani tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya produksi maupun kebutuhan rumah tangga. Kondisi ini kemudian mendorong penguatan NTP secara nasional.
Tak hanya hortikultura, subsektor tanaman pangan juga mencatat kinerja positif. NTP tanaman pangan naik 1,34 persen, dari 112,29 pada April 2026 menjadi 113,79 pada Mei 2026. Peningkatan ini menunjukkan kondisi ekonomi petani tanaman pangan juga mengalami perbaikan seiring membaiknya harga hasil panen di tingkat petani.
Versi ini lebih ringkas, mengalir, dan menggunakan struktur berita yang lebih kuat dengan fokus pada data utama, dampak terhadap petani, serta penjelasan faktor pendorong kenaikan NTP.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News