Ilustrasi vaksin covid-19. Foto: Medcom.id
Ilustrasi vaksin covid-19. Foto: Medcom.id

Biofarma dan DPR Hitung-hitungan Dana untuk Vaksin Covid-19

Ekonomi Bio Farma DPR RI vaksin covid-19
Annisa ayu artanti • 05 Oktober 2020 14:24
Jakarta: Direktur Utama PT Biofarma (Persero) Honesti Basyir mengungkapkan butuh pendanaan yang besar dalam menjalankan program vaksinasi covid-19. Program ini direncanakan pemerintah akan dimulai pada tahun depan.
 
Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR-RI, ia mengibaratkan jika harga vaksin Rp200 ribu per dosis, dan vaksinasi harus dilakukan terhadap 170 juta masyarakat Indonesia dengan dua dosis vaksin, maka diperkirakan dana yang dibutuhkan sekitar Rp68 triliun.
 
Oleh karena itu, pihaknya tengah melakukan komunikasi dengan pemerintah mengenai program tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pada saat vaksin covid ini akan diproduksi, memang kita butuh biaya yang cukup besar karena pengadaan vaksin itu dari pembelian bahan baku sampai produksi," kata Honesti, Senin, 5 Oktober 2020.
 
"Asumsi kami, kalau kita butuh 340 juta dosis itu harus dilakukan programnya, diasumsikan, saya tidak katakan harga seperti ini, katakanlah butuh Rp200 ribu satu dosis, artinya (kalau) dua dosis Rp400 ribu untuk melakukan pengadaan program vaksinasi," imbuhnya.
 
Lebih lanjut, ia menuturkan nantinya akan ada ada payung hukum yang akan menaungi program vaksinasi massal tersebut dalam bentuk Peraturan Presiden.
 
"Sebagai informasi akan ada perpres untuk menaungi masalah program vaksinasi ini," ucapnya.
 
Dalam regulasi tersebut perusahaan BUMN farmasi akan menjadi bagian terdepan dalam program vaksinasi tersebut. Tak hanya bertugas dalam penyediaan vaksin, perusahaan farmasi pelat merah akan melengkapi pengadaan-pengadaan alat-alat dan jasa yang berhubungan dengan program tersebut.
 
"Kami semua yang berada dalam BUMN farmasi ini akan diminta pemerintah sebagai bagian terdepan untuk melakukan program, mulai dari pengadaan vaksinnya sendiri, produksinya, pengadaan jarum suntik, alkohol, kapas, sampai nanti di klinik nakes-nakes," jelasnya.
 
Honesti pun meminta restu kepada Komisi VI untuk mendukung dan melancarkan program vaksin massal itu.
 
Adapun beberapa kerja sama dalam pengadaan vaksin sejauh ini, salah satunya adalah kerja sama antara Biofarma dengan produsen vaksin asal Tiongkok, Sinovac. Saat ini sedang uji klinis tahap tiga dan akan selesai pada Januari 2021.
 
Kemudian kerja sama pengadaan vaksin antara anggota holding farmasi PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dengan perusahaan Abu Dhabi yakni G42. Vaksin ini sudah masuk tahap uji klinis tahap tiga dan akan selesai pada Desember 2020.
 
Tak hanya itu, Biofarma juga membuka kerja sama dengan beberapa produsen vaksin lainnya yakni CanSinoBio, AstraZeneca, dan Novavax.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif