Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. MI/Susanto.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. MI/Susanto.

Sri Mulyani Punya Banyak Cara Tambal Defisit APBN

Ekonomi defisit anggaran
Eko Nordiansyah • 07 April 2020 20:56
Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku ada banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk menambal defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Tahun ini pemerintah meramal defisit APBN melebar hingga 5,07 persen dari target sebelumnya 2,2 persen.
 
"Kita akan menggunakan sumber-sumber pembiayaan paling aman dan biayanya paling kecil sebelum kita mengambil instrumen-instrumen lain yang memiliki tingkat biaya dan responsible tinggi," kata dia dalam video conference di Jakarta, Selasa, 7 April 2017.
 
Dirinya menyebut, salah satu yang bisa digunakan adalah instrumen pembiayaan non-utang seperti Saldo Anggaran Lebih (SAL). Saat ini Sri Mulyani mencatat ada SAL sebesar Rp45 triliun yang bisa digunakan. Jumlah ini naik dari rencana sebelumnya yakni Rp15 triliun dan Rp25 triliun.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita akan gunakan sampai SAL hanya cukup menjaga kita dari sisi cashflow secara aman. Artinya SAL akan dipakai seoptimal mungkin. Ini mengurangi pembiayaan dari market, karena kita punya cash di tangan pemerintah," ungkapnya.
 
Selain itu pemerintah bisa menggunakan dana abadi yang selama ini sudah diakumulasi secara signifikan. Dirinya menyebut dana abadi pendidikan yang jumlahnya Rp60 triliun merupakan yang paling besar, ditambah lagi dana yang ada di Badan Layanan Umum (BLU) pemerintah lainnya.
 
Kemudian, pemerintah memiliki opsi menyerap dana di pasar dengan menerbitkan surat utang. Saat ini pemerintah melakukan penerbitan utang Surat Berharga Negara (SBN) baik Surat Utang Negara (SUN) atau sukuk yang diterbitkan melalui mekanisme lelang secara terjadwal.
 
"Penerbitan SBN baik itu dalam bentuk SUN atau sukuk akan dilakukan melalui mekanisme reguler, yakni setiap minggu yaitu Selasa untuk SUN, sukuk setiap dua minggu. Mekanisme pasar diharapkan tetap menyerap dan memberikan tingkat preferensi risiko dan yield yang diminati calon investor yang kita anggap reasonable," jelas dia.
 
Bahkan Sri Mulyani percaya SBN di pasar domestik yang banyak diminati oleh investor dalam negeri maupun global. Selain itu, ada pula penerbitan SBN di pasar global dengan denominasi valas. Saat ini pemerintah memiliki global bond untuk dolar AS, euro, maupun yen Jepang.
 
"Keempat adalah menggunakan sumber-sumber dari bilateral dan multilateral. Kenapa mereka penting? Mereka punya sumber dana yang bisa dipinjam ke negara berkembang dengan biasanya konsesi cukup baik dan mereka biasanya tidak ikut market yang cukup besar fluktuasinya. Ini dampak positif ke komposisi pinjaman yang dianggap cukup aman," pungkasnya.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif