Stasiun MRT. Foto: Antara.
Stasiun MRT. Foto: Antara.

Rekayasa Lalu Lintas Selama Pembangunan MRT Fase Dua

Ekonomi mrt Proyek MRT
Syah Sabur • 26 Juli 2020 07:08
Jakarta: Pembangunan MRT Fase II pengerjaan CP201 mau tidak mau akan menimbulkan pada arus lalu lintas di sekitarnya. Bagi Anda yang biasa melintasi kawasan Thamrin dan sekitarnya harap bersabar sampai 2025.
 
Meskipun demikian, pihak MRT berupaya untuk meminimalisir gangguan tersebut. Menurut Direktur Konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim, ada tiga tahapan rekayasa lalu lintas yang diterapkan untuk memuluskan pembangunan Stasiun Thamrin. Pertama, lalu lintas akan digeser ke kanan dan kiri agar bagian tengah bisa dilakukan proses pengerjaan.
 
"Rekayasa yang akan dilaksanakan di Jalan Thamrin untuk pembangunan stasiun secara overview bisa dibilang ada tiga tahapan dari sekarang sampai selesainya proyek di Maret 2025. Tahap pertama kita menggeser traffic ke kanan kiri jadi tengah itu jadi area kerja," katanya dalam Forum Jurnalis MRT, di Jakarta, dikutip Sabtu, 25 Juli 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selanjutnya tahap kedua, lalu-lintas akan digeser ke salah satu sisi. Tahap ini akan berlangsung dari April sampai Desember 2023. "Itu area kerjanya yang tadinya di tengah menjadi di sebelah kiri jadi kita geser traffic ke sisi barat," ucap SIlvia.
 
Yang berikutnya tahap ketiga (dari Januari 2024 hingga Maret 2025) area kerja bakal berpindah ke posisi sebelah kanan, sehingga lalu lintas akan digeser kembali menyesuaikan area kerja.
 
"Januari 2024 sampai Maret 2025 kita akan menggeser area kerjanya dari sebelah kiri ke sebelah kanan, sehingga traffic kita geser lagi ke sebelah timur. Jadi intinya tengah dulu area kerjanya, terus sebelah kiri, kemudian sebelah kanan. Ini tahapan besarnya tentu akan ada tahapan kecilnya tapi kurang lebih ini," tuturnya.
 
Selama proses pembangunan akan dipasang pagar pembatas proyek di kanan kiri jalan. Nantinya trotoar sedikit dikurangi untuk pelebaran jalan. "Jadi kita menggeser traffic sedikit ke tengah. Tujuannya kita mau melakukan pelebaran jalan, jadi trotoar akan kita kurangi nanti lebarnya untuk kita jadikan jalan sementara," jelasnya.
 
Proyek moda raya terpadu (MRT) Jakarta fase II pengerjaan CP201 akan dibangun dua stasiun bawah tanah yakni Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas. Untuk melakukan pengerjaan itu akan ada perombakan habis-habisan di sekitar kawasan tersebut.
 
Silvia Halim mengatakan mulai Oktober hingga pembangunan berlangsung, cagar budaya seperti Tugu Jam Thamrin yang dibangun sejak 1969 akan dipindahkan sementara atau direlokasi.
 
"Jadi setelah kita konsultasi dengan Pemprov harus direlokasi selama pembangunan MRT Stasiun Thamrin. Saat ini kita sedang melakukan scanning dan evaluasi struktur. Rencananya Oktober akan dilakukan relokasi," kata Silvia.
 
Setelah pembangunan selesai, tugu jam tersebut akan dikembalikan dengan kondisi yang lebih baik. Relokasi tugu jam juga masih dalam pembahasan. "Ada dua pilihan dipindah sementara dan diletakkan di Lapangan Banteng. Jadi ini sekarang lagi tahap pembahasan," ucapnya.
 
Selain itu, jembatan penyeberangan orang (JPO) di Bank Indonesia (BI) juga akan dibongkar mulai Agustus 2020. Masyarakat yang ingin menyeberang atau naik TransJakarta masih bisa memanfaatkan zebra cross.
 
"Pembongkaran JPO BI pada bulan Agustus 2020. Masyarakat tetap bisa mengakses TransJakarta dengan menggunakan zebra cross kita akan pastikan ada akses jalan kaki yang aman," tuturnya.
 
Di depan Bank Mandiri dan BI juga akan dibangun halte TransJakarta sementara. Dengan begini, moda transportasi masyarakat selama pembangunan MRT Jakarta fase II tidak akan terganggu. "Desainnya bukan sementara, desain fisiknya itu seperti halte TransJakarta permanen dan desain paling baru sesuai dengan standar TransJakarta itu sendiri. Dibikin mirip-mirip sama yang ada di Tosari," ucapnya.
 
Selain itu, pos polisi di kawasan Monas akan dipindahkan karena ada pembangunan stasiun MRT Jakarta. Dikarenakan pos polisi ini bukan merupakan cagar budaya, maka akan dipindahkan permanen.
 
Untuk diketahui, Stasiun Thamrin akan menjadi salah satu stasiun terbesar dengan 10 pintu masuk (entrance) yang panjangnya 409 meter dan memiliki area komersil sepanjang 200 meter. Kawasan ini akan terintegrasi dengan TransJakarta. Sedangkan Stasiun Monas akan memiliki panjang 280 meter, sehingga total terowongan diperkirakan mencapai 1.942 meter.
 
Pembangunan MRT Jakarta fase II pengerjaan CP201 terus dikebut pembangunannya di tengah pandemi virus Corona (covid-19). Rute tujuan Bundaran HI-Harmoni ini ditargetkan baru bisa beroperasi pada April 2025.
 
Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengatakan konstruksi ditargetkan selesai pada Maret 2025, sehingga diharapkan April 2025 bisa langsung beroperasi. "Rencananya pembangunan selesai kuartal I-2025 atau Maret 2025, sehingga April 2025 diharapkan khusus CP201 ini bisa beroperasi," kata William.
 
Jika proyek secara keseluruhan sudah selesai, diperkirakan jumlah penumpang MRT Jakarta mencapai 551.200 per hari pada 2025. Biaya pembangunan fase II sendiri ditaksir mencapai Rp22,5 triliun.
 
"Untuk fase II ini kita sudah lihat pembangunannya Rp22,5 triliun yang sudah dikomitmenkan oleh JICA yang pendanaannya sama dengan fase I yakni 51 persen akan ditanggung oleh pemerintah DKI dan sisanya oleh pemerintah pusat," tuturnya.
 
Sementara untuk rampung sampai ke kawasan Kota ditargetkan pada Februari 2026. "Jadi seluruhnya akan selesai 2026 kalau itu sesuai dengan rencana yang dikerjakan sekarang," ucapnya.
 
Dengan tersambungnya MRT Jakarta dari Lebak Bulus hingga Kota, maka waktu tempuhnya diperkirakan mencapai 45 menit. Dalam pembangunan MRT Jakarta fase II ini terdapat Stasiun Bundaran HI, Stasiun Thamrin, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok, dan Stasiun Kota.
 
"Kemudian ke utara lagi akan ada Stasiun Mangga Dua, Stasiun Ancol dan satu stasiun di depo Ancol Barat," imbuhnya.
 
William juga menjelaskan alasan pembangunan depo dilakukan di Ancol Barat di fase II. Padahal, rencana awalnya akan dilakukan di Kampung Bandan. Menurutnya, lokasi Kampung Bandan yang semula akan dijadikan depo MRT itu merupakan lahan milik PT KAI. Namun, lahan tersebut masih ada masalah hukum antara PT KAI dengan pihak ketiga.
 
Dia menjelaskan karena ada masalah hukum, pihaknya kemudian mencari lahan baru dan ditemukan lahan yang cocok untuk membangun depo di Ancol Barat. Lahan tersebut Milik PT Asahimas Flat Glass.
 
"Ancol Barat luas ada lahan Asahimas yang akan ditinggalkan karena bukan kawasan industri lagi dan luas efektifnya bisa dipakai semua. Relatif bagus, sudah dipagari dan konsolidasi lahan sudah bagus," ucapnya.
 
Karena itu, sebelum memilih Ancol Barat, pihaknya menyiapkan tiga opsi lahan. Pertama di stadion BMW, Ancol Barat, dan Ancol Timur. Namun, setelah dilakukan kajian, Stadion BMW batal dipilih karena ada proyek stadion Jakarta International Stadium (JIS). Sementara untuk Ancol Timur, memiliki ukuran yang relatif kecil.
 
"Ada lahan sedang reklamasi saat itu tapi luas reklamasi hanya 12 hektare. Untuk buat depo harus punya lahan persegi karena butuh track yang panjang. Di Ancol Timur, lehernya kecil sekali dan menyulitkan untuk manuver kereta," katanya.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif