“Jadi gini kalau dilihat sebenarnya kan saya mulai bermedia sosial itu 2014 waktu jadi Presiden Intermilan, bukan menjadi pejabat publik tapi merasa pejabat publik karena fans,” kata Erick saat acara talk show, Jumat, 31 Desember 2021.
Menurut Erick, medsos dijadikan untuk mengontrol atau menjaga keseimbangan antara lembaga-lembaga negara dan masyarakat. Hal ini seperti yang dialami dirinya saat masih di Intermilan, ketika salah dibuly dan kalau di bola kalah di maki dan menang disanjung.
“Saya setuju ini bagian dari check and balance, ya sama ketika punya klub bola ya nasibnya sama, menang dipuji puji, begitu kalah di maki maki. Dan perasaan itu kalau di bola seperti kalah enggak bisa tidur, seri kenapa gak bisa menang, menang senyum-senyum sendiri jadi sama di Medos itu,” ucapnya.
Baca: Erick Thohir: Kualitas Produk Ekonomi Kreatif RI Bisa Bersaing dengan Global
Erick juga menyinggung soal viralnya video saat ia di toilet umum SPBU. Lelaki berdarah Lampung ini kemudian menjelaskan awal mula kejadian dirinya meminta toilet umum di SPBU di bawah BUMN gratis.
Erick saat itu hendak pergi ke PTPN12 yang berada di Jakarta Selatan. Namun di jalan, ia ingin buang air kecil dan singgah di salah satu SPBU.
Saat mengetahui toilet umum di SPBU berbayar, Erick mengaku kaget karena toilet yang berada di SPBU milik BUMN harus bayar. Buat dia harus gratis atau seikhlasnya, bukan dipatok dengan harga tertentu seperti yang banyak di toilet-toilet umum saat ini.
“Cuman waktu itu saya agak tergelitik karena sebetulnya fasilitas dalam tanda kutip BUMN. Nah di situ tiba-tiba ada yang harus, bukan seikhlasnya tapi harus bayar. Saya dengan (gak ada uang di kantong) yes, kedua no,” ungkapnya.
“Dalam arti begini, kan kalau kita seikhlasnya itu sesuatu yang bisa dilakukan, tapi kalau dipatok-patok di fasilitas publik. Apalagi punya BUMN. Di airport gratis, kereta api gratis, nah saya cuman lihat ini sesuatu yang memberatkan,” ujarnya.
Seperti diketahui, Medsos seperti instagram, facebook, twitter dan YouTube kini menjadi wadah yang tepat buat semua orang, terkhusus buat pejabat publik dimana mereka bisa berinteraksi dengan masyarakat tanpa dibatasi oleh waktu atau protokoler yang ketat. Masyarakat juga dengan leluasa menyampaikan permasalahan yang dihadapi oleh pejabat publik tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News