Ilustrasi perkebunan. Dok. MI
Ilustrasi perkebunan. Dok. MI

Pengusaha Kehutanan Sedang Dorong Pasar Secara Berkelanjutan

Achmad Zulfikar Fazli • 07 April 2022 16:43
Jakarta: Pengusaha kehutanan tengah mendorong pasar berkelanjutan. Ada tiga aturan dalam mewujudkan pembangunan sektor kehutanan yang memiliki daya saing dan tetap berkelanjutan.
 
Aturan tersebut adalah Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2016 tentang tentang Pengesahan Paris Agreement To The United Nations Framework Convention On Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim). Lalu, UU Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi dan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
 
"Dari situ kita mengetahui dunia industri kehutanan menuju multiusaha kehutanan. Kita juga melihat sekarang ini semua kaitannya sudah kepada keberlanjutan," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Indroyono Soesilo, dalam webinar Indonesia Data and Economic Conference (IDE) Katadata 2022 dengan tema 'Soft Commodities: Road To Sustainablity', Kamis, 7 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Indroyono mengatakan ekspor industri kehutanan Indonesia mencapai USD13,5 miliar pada 2021. Capaian itu baru pertama kali.
 
Di samping itu, para pengusaha masih menunggu aturan turunan untuk pengembangan industri kehutanan. Saat ini, aturan yang ada baru Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional.
 
"Kita tunggu regulasi di bawahnya, peraturan-peraturan menterinya, sehingga nanti program-program penurunan emisi dari sektor-sektor non-pemerintah, salah satunya kehutanan, semakin jelas," kata dia.
 
Baca: Menperin Sebut Pertumbuhan Pelaku Industri Hijau Harus Diterapkan
 
Managing Director, PT Triputra Agro Persada (TAP) Group, Sutedjo Halim, mengatakan pihaknya berkomitmen menjalankan bisnis secara berkelanjutan dengan benar, serta bisa diuji dan diakui secara nasional maupun internasional.
 
Dia menyampaikan pihaknya melakukan penyerapan karbon dari kawasan dengan nilai konservasi tinggi (high conservation value/HCV) dan kawasan stok karbon tinggi (high carbon stock/HCS). Mereka juga membangun biodiesel di Kalimantan Timur.
 
"Dua pekan lalu kami mendapatkan anugerah penghargaan sebagai konservasi tertinggi 2022," kata Sutedjo.
 
Dia berharap capaian baik berkaitan dengan keberlanjutan ini dapat dicontoh perusahaan pengebun lainnya. Sebab, kata dia, berkebun bukan saja memikirkan hasil untuk diri sendiri, namun untuk masa depan dan lingkungan sekitar.
 
Sutedjo mengungkapkan perusahaannya memilki peta jalan kenetralan karbon yang digelar dan dijalankan sejak tiga tahun terakhir. Peta jalan tersebut didorong melalui Desa Makmur Peduli Api. PT TAP Group memberikan penghargaan bagi desa-desa hingga pemangku kepentingan untuk tidak membakar hutan.
 
"Kita juga memberikan kompensasi untuk perkembangan perekonomian di sekitar lahan perusahaan," kata dia.
 
Selain itu, perusahaannya menggunakan alternatif-alternatif energi yang dikembangkan mulai dari biomassa dan biogas. Saat ini, mereka sedang merancang Biomethane Compressed Natural Gas (Bio-CNG) sebagai pengganti energi fosil. Ini adalah gas metan yang diubah menjadi liquid gas.
 
"Ini adalah alternatif-alternatif yang kami coba dorong untuk menurunkan atau memitigasi terhadap emisi gas rumah kaca," ucap dia.
 
Sementara itu, President Director, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk, Lucas Kurniawan, mengatakan dalam mendukung keberlanjutan usaha, dasar yang paling penting adalah mengupayakan perusahaannya memperoleh sertifikasi dari badan-badan yang diakui. Dia bersyukur seluruh pabrik kelapa sawit milik ANJ sudah mendapatkan sertifikasi pada 2021.
 
"Terakhir pabrik kelapa sawit kita di Papua Barat," kata Lucas.
 
Menurut dia, sertifikasi sangat penting untuk mengundang kepercayaan bagi pembeli minyak sawit ANJ dan memberikan panduan bagi perusahaan mengenai kerangka kerja yang harus diperhatikan dalam menjalankan praktik-praktik berkelanjutan.
 
"Kemudian dari sertifikasi itu, kita juga menyusun dan mengomunikasikan kerangka kerja keberlanjutan kita," ujar dia.
 
(AZF)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif