NEWSTICKER
Ilustrasi - - Foto: AFP
Ilustrasi - - Foto: AFP

Chandra Asri Raup Pendapatan Rp28,2 Triliun di 2019

Ekonomi chandra asri petrochemical
Husen Miftahudin • 17 Maret 2020 19:07
Jakarta: PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) meraup pendapatan bersih sepanjang 2019 sebanyak USD1,88 miliar atau setara Rp28,2 triliun (kurs Rp15 ribu per USD). Pendapatan tersebut berasal dari peningkatan total kapasitas produksi sebesar 603 kilo ton per annum (KTA) menjadi 4.061 KTA yang berasal dari proyek debottlenecking pabrik dan pabrik baru Polyethylene dengan kapasitas 400 KTA.
 
"Kami tidak hanya dapat menyelesaikan proyek penambahan kapasitas tepat waktu dan sesuai anggaran, kami juga telah merampungkan Turnaround Maintenance (TAM) terjadwal untuk pabrik-pabrik kami selama Agustus-September 2019 dengan aman dan dengan startup vertikal," kata Direktur Chandra Asri Petrochemical Suryandi dalam keterangan tertulis, Selasa, 17 Maret 2020.
 
Suryandi mengakui capaian pendapatan bersih tersebut turun sebanyak 26 persen dari raihan tahun sebelumnya sebesar USD2,54 miliar atau setara Rp38,14 triliun. Ini akibat harga penjualan rata-rata produk dan volume penjualan yang lebih rendah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Turnaround Maintenance terjadwal dengan dilakukannya tie-in dengan pabrik Polyethylene baru berkapasitas 400 KTA dan debottlenecking Polypropylene untuk meningkatkan kapasitas sebesar 110 KTA," ucapnya.
 
Meskipun demikian, beban pokok perusahaan turun 20,6 persen menjadi USD1,7 miliar (Rp25,63 triliun) sepanjang 2019 dari USD2,15 miliar (Rp32,28 triliun) di tahun sebelumnya. Ini karena biaya bahan baku yang lebih rendah, terutama produk Naphtha turun menjadi rata-rata USD542 per MT dari USD650 per MT di tahun sebelumnya.
 
"Hal itu mencerminkan harga minyak mentah Brent yang lebih rendah turun ke rata-rata USD64 per bbl di 2019 dibandingkan dengan USD72 per bbl di tahun sebelumnya," tuturnya.
 
Kemudian, EBITDA turun 55,2 persen menjadi USD180,1 juta dari USD401,7 juta di tahun sebelumnya yang disebabkan oleh margin petrokimia yang lebih rendah. "Sepanjang tahun lalu merupakan kondisi ekonomi makro yang menantang dengan perang dagang, ketidakpastian geopolitik, dan penurunan margin produk petrokimia karena peningkatan pasokan kapasitas," urai dia.
 
Alhasil, laba bersih perusahaan turun sebesar 87 persen menjadi USD23,6 juta dari USD182,3 juta di tahun sebelumnya. "Kami percaya pada prospek industri petrokimia yang kuat dan menarik di Indonesia," tegas Suryandi.
 
Perusahaan, jelasnya, akan tetap menjalankan rencana ekspansi dan mengembangkan kompleks petrokimia kedua. "Kecepatan pelaksanaan bergantung pada pendekatan stage-gated yang telah kami terapkan secara konsisten untuk memastikan penggunaan modal yang efektif dan berhati-hati, didasari oleh basis ekuitas yang kuat di neraca kami," tutup dia.
 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif