"Kegiatan pengembangan penerapan jeruk dengan teknologi Bujangseta di Sambas tersebut dituangkan dalam Inpres Nomor 1 tahun 2021, tentang percepatan pembangunan ekonomi pada kawasan perbatasan negara di Aruk, Mootain dan Skouw. Kabupaten Sambas satu di antara daerah perbatasan,” ujarnya dikutip dari Antara, Kamis, 1 April 2021.
Ia menyebutkan pengembangan jeruk dengan teknologi Bujangseta di Kabupaten Sambas tersebut tersebar di lima kecamatan yakni Kecamatan Semparuk Sambas sebawi sekarang dan Sambas.
“Untuk tahun ini bukan hanya sebatas pengembangan namun juga ada pengembangan industri pengolahan dan pengemasan komoditas jeruk di Sambas tepatnya di Kecamatan Semparuk,” kata dia.
Terkait luasan tanaman jeruk di Kabupaten Sambas yang dikenal sentra jeruk di Kalbar tersebut hingga 2020 sudah sudah mencapai luas panen 5.571 ha dengan luas produksi 115.275 ton dan produktivitas 20,69 ton per ha.
Sedangkan untuk luas panen di Kalbar sendiri hingga 2020 untuk tanaman jeruk mencapai 6.215 hektare dengan luasan produksi 133.383 ton dan produktivitas 21,46 ton per hektare,” katanya.
“Pada 2020 mengalami penurunan produksi. Penyebabnya karena ada sebagian tanaman jeruk yang sudah kurang produksinya dan ada juga teknik pembiaran atau tidak dirawat intensif pada saat harga jeruk murah. sehingga tidak berbuah,” sebutnya.
Dinas Pertanian TPH Kalbar Kalbar sendiri menurutnya telah memiliki instalasi Citrus Centre yang ada di Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Citrus Centre tersebut memiliki luas 1,4 hektare, dengan populasi 700 batang. Tanaman jeruk saat ini sudah berumur dua tahun dan sudah menerapkan teknologi Bujangseta secara mandiri.
“Kehadiran Citrus Centre ini diharapkan dapat menjadi tempat pembelajaran bagi petani jeruk yang ada di Kabupaten Sambas dan Kalbar umumnya,” harap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id