Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati - - Foto: MI/ Immanuel
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati - - Foto: MI/ Immanuel

Pertamina Kaji Ulang Kontrak Impor LNG dari Mozambik

Suci Sedya Utami • 09 Februari 2021 18:05
Jakarta: PT Pertamina (Persero) mengkaji ulang kontrak pembelian gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dari Mozambik sebesar satu juta ton per tahun mulai 2025. Kontrak tersebut baru efektif berlaku ketika kargo pertama dikirimkan pada 2025.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan impor LNG saat ini belum berlaku. Ia pun membantah gugatan dari Mozambik LNG1 Company Pte Ltd terkait rencana pembatalan perjanjian pembelian LNG ini.
 
"Gugatan itu tidak ada karena kontrak efektif nanti pada 2025 karena kan ini barang belum ada," kata Nicke dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Jakarta, Selasa, 9 Februari 2021.
 
Nicke mengakui memang nasib kontrak tersebut ke depannya ditentukan setelah rencana umum energi nasional (RUEN) yang terbaru terbit. Sebab, kontrak impor ini dilakukan pada saat neraca gas Indonesia memperkirakan pasokan gas domestik akan mengalami defisit di 2025.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengacu perkiraan defisit dan sebagai perencanaan jangka panjang akhirnya pihaknya meneken head of agreement (HoA) di 2014 dan menandatangani kontrak jual beli (sales purchase agreement/SPA) pada 2019. Namun, saat ini adanya pandemi covid-19 menyebabkan permintaan gas nasional menurun, membuat perseroan akhirnya mengkaji ulang.
 
"Sebagai langkah prudent dan GCG (good corporate governance), maka kami review kembali supply demand ke depan agar kemudian tidak terjadi impact ke korporasi. Situasi hari ini belum mulai (impor), kalaupun dikirim di 2025. Tapi kami lihat dulu neraca gas terakhir setelah RUEN, kami identifikasi dulu dengan adanya covid-19 demand turun," ucap Nicke.
 
Berdasarkan paparan Pertamina, Neraca Gas Indonesia yang diterbitkan berkala dalam kurun waktu 2011-2018 secara konsisten menjelaskan dan menggambarkan pasokan gas melalui impor merupakan suatu keharusan untuk memenuhi kebutuhan nasional. Bahkan, dalam neraca gas Indonesia 2018, diproyeksikan defisit gas domestik sekitar 8,25 juta ton per tahun mulai 2025. Analisis Pertamina dan didukung publikasi internasional terkait proyeksi pasokan dan permintaan LNG global juga memprediksi defisit mulai 2023-2024.
 
Menurutnya kontrak impor gas ini cukup kompetitif dari sisi harga untuk jangka panjang. Selain itu, kontrak ini memberikan fleksibilitas untuk periode pengiriman dan volume, serta memberikan jaminan pasokan lantaran cadangan yang dapat diproduksikannya mencapai 75 triliun kaki kubik. Selain itu juga terdapat peluang kerja sama bisnis value chain, seperti technical service, investasi kapal, dan participating interest (PI) investasi hulu atau infrastruktur.
 
"Sumber LNG cukup banyak dan fasilitasnya dibangun memang khusus untuk itu. Jadi security of supply cukup besar," jelas dia.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif