Upaya tersebut mendapat pendampingan dari PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Fuel Terminal (FT) Sanggaran. Program konservasi berbasis masyarakat ini bertujuan memperkuat perlindungan penyu sekaligus meningkatkan kapasitas warga pesisir dalam mengelola kegiatan konservasi.
Ketua Pokmaswas Sari Segara Kesiman Kertalangu, I Made Bagus Mahayana, mengatakan keterlibatan masyarakat berawal dari kepedulian terhadap penyu yang kerap mendarat di Pantai Biaung untuk bertelur.
“Awalnya kami adalah nelayan. Karena sering melihat penyu naik ke Pantai Biaung untuk bertelur, kami mulai ikut mengamankan telur-telurnya. Dari situ kami belajar memantau sarang, merelokasi telur yang berisiko ke tempat penetasan, hingga nantinya tukik menetas dan dilepasliarkan kembali,” ujar I Made Bagus Mahayana dalam keterangan tertulis, Selasa, 13 Oktober 2026.
Melalui pendampingan tersebut, anggota kelompok mendapatkan pelatihan pemantauan sarang, relokasi telur, pengelolaan tempat penetasan atau hatchery, pencatatan perkembangan telur, hingga pelepasliaran tukik.
Hingga 2026, program tersebut telah menghasilkan ribuan tukik yang menetas dan dilepasliarkan ke habitat alaminya. Kegiatan ini juga memperkuat kapasitas 13 anggota Pokmaswas dalam menjalankan pengelolaan konservasi secara lebih terstruktur.
Perkuat Kapasitas Masyarakat Pesisir
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya perusahaan mendukung pelestarian keanekaragaman hayati melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).“Pertamina berkomitmen mendukung pelestarian keanekaragaman hayati melalui program yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama konservasi. Melalui pendampingan Pokmaswas Sari Segara Kesiman Kertalangu, kami mendorong peningkatan kapasitas masyarakat, pemanfaatan inovasi teknologi, serta pengembangan edukasi dan aktivitas ekonomi alternatif yang selaras dengan prinsip konservasi. Dengan demikian, upaya menjaga kelestarian penyu dapat berjalan beriringan dengan penguatan kemandirian masyarakat pesisir,” ujar Ahad.
Selain keterampilan teknis, pendampingan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan kelompok dalam menjaga keberlanjutan kegiatan konservasi. Upaya tersebut mencakup pengembangan sistem pemantauan, pemanfaatan teknologi, serta penyediaan sarana edukasi mengenai perlindungan penyu dan habitat pesisir.
Melalui pendekatan berbasis masyarakat, warga berperan langsung dalam rangkaian kegiatan konservasi, mulai dari pemantauan sarang hingga pelepasliaran tukik. Pendampingan berkelanjutan diharapkan dapat mendukung keberlangsungan upaya perlindungan penyu sekaligus menjaga ekosistem pesisir Pantai Biaung.