Data S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April, dari 50,1 pada Maret. Angka di bawah 50 menandakan sektor manufaktur berada dalam fase kontraksi.
| Baca juga: Posisi RI dalam Pertarungan Tekstil Global Masih Kuat |
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik telah menghambat kelancaran distribusi bahan baku, sekaligus mendorong kenaikan harga komoditas dan biaya logistik. Kombinasi faktor tersebut menekan aktivitas produksi industri dalam negeri.
Menurutnya, ketidakpastian global membuat pelaku industri menghadapi beban biaya yang lebih tinggi, sehingga berdampak pada penurunan performa manufaktur secara keseluruhan.
Untuk meredam dampak tersebut, pemerintah mulai memperkuat koordinasi di dalam ekosistem industri. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mempertemukan pelaku industri yang terdampak gangguan pasokan, termasuk sektor plastik, guna menjaga ketersediaan bahan baku.
Selain itu, Kemenperin mendorong pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT) agar pelaku industri tidak terlalu bergantung pada mata uang asing, sekaligus mengurangi risiko akibat fluktuasi nilai tukar.
Di sisi kebijakan, pemerintah tengah mempercepat berbagai strategi, seperti peningkatan substitusi impor, penguatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), serta diversifikasi sumber bahan baku dan tujuan ekspor. Upaya ini juga dibarengi dengan pendampingan bagi industri kecil dan menengah (IKM), serta percepatan transformasi digital untuk meningkatkan efisiensi.
Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk menjaga daya tahan industri nasional sekaligus mempertahankan tingkat produksi, termasuk melindungi tenaga kerja dari risiko pemutusan hubungan kerja.
Kemenperin juga menyiapkan tambahan insentif dan kebijakan proteksi industri untuk menghadapi dampak lanjutan dari gejolak global. Paket kebijakan baru ini diharapkan dapat memperkuat fondasi industri nasional sekaligus menjaga stabilitas rantai pasok.
Secara regional, tekanan terhadap sektor manufaktur tidak hanya dialami Indonesia. Negara-negara Asia Tenggara juga menunjukkan tren beragam, dengan Vietnam mencatat PMI sekitar 50,5, Malaysia 51,6, sementara Filipina berada di level kontraksi lebih dalam, yakni 48,3.
Dengan capaian 49,1, Indonesia masih berada dalam kategori kontraksi moderat, sejalan dengan tren pelemahan di kawasan. Meski begitu, permintaan domestik dinilai masih menjadi penopang utama yang menjaga ketahanan sektor manufaktur.
Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri masih menyimpan optimisme. Survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menunjukkan tingkat keyakinan terhadap prospek enam bulan ke depan berada di angka 70,1 persen, meski sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya.
Pemerintah melihat kondisi ini sebagai sinyal penting untuk memperkuat struktur industri nasional agar lebih tahan terhadap guncangan global di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News