Ilustrasi cukai plastik- - Foto: MI/ Pius Erlangga
Ilustrasi cukai plastik- - Foto: MI/ Pius Erlangga

Tidak hanya Plastik, Ekstensifikasi Cukai Perlu Dilakukan

Ekonomi industri rokok cukai tembakau Cukai Plastik APBN 2021
Nia Deviyana • 02 September 2021 22:12
Jakarta: Pemerintah menargetkan pendapatan negara hingga Rp1.743,6 triliun pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2021. Dari jumlah tersebut, pendapatan cukai ditargetkan mencapai Rp180 triliun atau 10 persen dari pendapatan negara.
 
Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Nirwala Dwi Heryanto mengatakan penetapan cukai kemungkinan tak hanya terbatas pada rokok dan plastik, tetapi juga pada makanan dan minuman berpemanis. 
 
"DPR telah menyetujui cukai kantong plastik, berikut dengan cukai kemasan dan wadah plastik, cukai diapers, cukai alat makan dan minuman sekali pakai. Sedangkan penambahan cukai untuk makanan dan minuman berpemanis belum disetujui," ujarnya dalam diskusi Ekstensifikasi Cukai untuk Pemulihan Ekonomi Nasional, Kamis, 2 September 2021.
 
Meski belum disetujui, lanjut Nirwala, fakta terkait prevalensi diabetes melitus di Indonesia yang meningkat sebesar 30 persen dalam periode 2013-2018, serta pertumbuhan obesitas di Indonesia yang berada pada peringkat ketiga tertinggi di negara ASEAN pada periode 2010-2014, yakni 33 persen bisa dijadikan pertimbangan pemerintah ke depannya. 
 
"Melihat data tersebut, makanan dan minuman berpemanis berpotensi dikenakan cukai," jelasnya.
 
Mengenai hal tersebut, Anggota Komisi XI DPR-RI Eriko Sotarduga mengatakan pemerintah perlu mengkaji lebih jauh terkait barang-barang yang berpotensi dikenakan cukai. Perluasan objek cukai perlu segera dibahas pemerintah dan DPR, salah satunya terkait barang-barang yang diharapkan dapat dikurangi konsumsinya, seperti makanan minuman yang tinggi kandungan Gula, Garam dan Lemak (GGL). 
 
"Konsumsi GGL yang terus bertambah mengakibatkan meningkatnya risiko kesehatan, (pengenaan) cukai akan membantu membuat masyarakat lebih menyadari menjaga kesehatan diri, tanpa harus memberatkan," ucapnya. 
 
Untuk itu, ia menekankan pentingnya Pemerintah membuat peta jalan perluasan objek cukai.
 
Senada, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esa Suryaningrum mengatakan, kebijakan ekstensifikasi cukai yang dilakukan pemerintah sudah tepat. Sebab, selama puluhan tahun hanya ada tiga objek cukai di Indonesia, yang mana pemerintah menjadikan Industri Hasil Tembakau (IHT) sebagai kontributor utama cukai. 
 
"IHT layaknya angsa bertelur emas, yang terus diandalkan untuk mampu memenuhi target penerimaan cukai, meski dengan tarif cukai yang kian meningkat yang dibebankan," katanya. 
 
Esa menjelaskan jika tarif cukai IHT terus dinaikan, hal ini tidak akan optimal dan malah akan memberikan dampak lain seperti perdagangan rokok ilegal. 
 
"Saat ini pun meski memenuhi target cukai, namun angka produksi hasil tembakau kian menurun," Untuk itu, perlu didorong adanya peta jalan perluasan cukai," jelasnya.
 
Target cukai terus mengalami peningkatan dan yang paling besar kemungkinan akan terjadi pada 2022. Sebagai contoh, pada 2019 pemerintah menetapkan kenaikan cukai sebesar 6,5 persen dari tahun sebelumnya. Pada 2020 naik 9,08 persen, dan pada 2022 kemungkinan akan mencapai 11,9 persen dari target 2021.
 
Kenaikan cukai yang kian tinggi sejalan dengan wacana pemerintah untuk menetapkan perluasan objek cukai pada 2022 dengan menambahkan plastik sebagai barang kena cukai. Sejak Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang cukai diberlakukan, objek barang kena cukai hingga 2021 ini baru terbatas pada tiga jenis barang yaitu etil alkohol, minuman mengandung etil alkohol, dan produk hasil tembakau. 
 
Selama kurun waktu tersebut pula, pendapatan cukai hasil tembakau mendominasi pendapatan cukai hingga lebih dari 90 persen setiap tahunnya.
 
Adapun Indonesia merupakan salah satu negara dengan obyek cukai paling minim. Negara tetangga seperti Thailand telah mengenakan cukai pada 16 objek, Kamboja sebanyak 11 objek, Laos sebanyak 10 objek, Myanmar sembilan objek, Vietnam delapan objek, India 28 objek, dan Jepang 24 objek.
 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif