Menparekraf Sandiaga Uno. Foto: dok Kemenparekraf.
Menparekraf Sandiaga Uno. Foto: dok Kemenparekraf.

Protokol Kesehatan di Destinasi Wisata Harus Terapkan CHSE

Ekonomi Pariwisata museum Sandiaga Uno Kemenparekraf protokol kesehatan Hari Museum Nasional
Ade Hapsari Lestarini • 13 Oktober 2021 19:42
Yogyakarta: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno berharap ada adaptasi penerapan protokol kesehatan CHSE untuk destinasi pariwisata.
 
CHSE merupakan singkatan dari Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability. CHSE adalah protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai pedoman bagi para pelaku di bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
 
Penerapan protokol kesehatan tersebut sejalan dengan mulai dibukanya beberapa destinasi wisata di berbagai daerah, salah satunya museum. Hal ini mengikuti penyelenggaraan rangkaian kegiatan Festival Museum Yogya 2021 oleh Badan Musyawarah Musea (Barahmus) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Inovasi dengan mengembangkan jalur wisata tematik di destinasi super prioritas Borobudur dengan tema Edutour dan melibatkan museum dan cagar budaya menjadi daya tarik unggulan. Juga penguatan narasi/storytelling, serta pemanfaatan teknologi dan kolaborasi pentahelix," ujar Sandiaga, dikutip Rabu, 13 Oktober 2021.

Hari Museum Nasional

Kota Yogyakarta dipercaya sebagai lokasi penyelenggara Perayaan Hari Museum Nasional 2021. Acara yang digelar secara daring ini, menjadi acara puncak dari rangkaian acara Peringatan 50 Tahun Barahmus DIY yang sudah berlangsung sejak 7 Agustus 2021 silam.
 
Protokol Kesehatan di Destinasi Wisata Harus Terapkan CHSE
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowono X.
 
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubowono X, yang juga merupakan tuan rumah penyelenggaraan acara puncak Hari Museum Nasional ke-6 dan Perayaan Ulang Tahun ke-50 Barahmus DIY mengatakan, peringatan HMI memiliki nilai yang sangat strategis bagi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Terutama bila dikaitkan dengan salah satu poin dari resolusi pada HMI Pertama yaitu membantu perkembangan kebudayaan baik dalam skala nasional maupun internasional.
 
"Momentum HMI kali ini juga harus menguatkan kesadaran dan komitmen kita bersama, untuk mampu mengemas koleksi museum yang berasal dari masa silam, sehingga bisa jadi pelajaran untuk masa kini dan masa mendatang. Koleksi-koleksi museum juga tidak harus melulu berupa benda-benda kuno. Koleksi-koleksi terbaru juga perlu dipresentasikan sebagai bentuk inovasi dan kreativitas sehingga koleksinya terus berkembang dan relevan," tambah Sri Sultan.
 
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset & Teknologi Nadiem Makarim mengingatkan masyarakat jangan melupakan sejarah. Karena merupakan pembangun jati diri sebagai bangsa. Dia menambahkan, saat ini Indonesia memiliki 509 museum dan jumlahnya terus bertambah seiring tumbuhnya kesadaran akan pentingnya museum.
 
"Semua sudah menyadari bahwa museum adalah sumber pengetahuan tentang asal-usul kita sebagai suatu bangsa, dan sumber kekuatan kita untuk membangun masa depan," tambah Nadiem.

Museum Indonesia tangguh hadapi pandemi

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Museum Indonesia Putu Supadma Rudana menyoroti bagaimana museum di Indonesia menghadapi tantangan yang sangat besar dua tahun belakangan.
 
"Dalam dua tahun terakhir, museum di Indonesia telah memperlihatkan ketangguhannya menghadapi efek panjang pandemi. Museum memastikan tugas utama tetap berjalan, mengedukasi masyarakat, dan juga untuk misi pelestarian, dan telah memanfaatkan TI agar mudah diakses masyarakat," jelas Putu.
 
Dalam laporannya, Ketua Panitia Perayaan 50 tahun Barahmus mengatakan rangkaian acara yang dijalankan selama dua bulan penuh mendapatkan animo yang cukup besar dari masyarakat. Bukan hanya di Yogyakarta, namun juga dalam skala nasional.
 
"Kami berharap, kegiatan yang telah berjalan dalam rangkaian kegiatan 50 Tahun Barahmus DIY ini bisa menghadirkan manfaat bagi museum-museum Indonesia. Momentum ini tepat untuk mengajak rekan-rekan permuseuman untuk bersama sama repackaging culture, repackaging museum, karena tidak ada budaya dan sejarah yang kuno hanya kemasannya lah butuh perubahan," pungkas GKR Bendara.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif