Ilustrasi Hustle culture. Foto: Freepik
Ilustrasi Hustle culture. Foto: Freepik

Kerja Terus Belum Tentu Produktif, Ini Cara Keluar dari Hustle Culture

Annisa ayu artanti • 30 September 2026 10:28
Ringkasnya gini..
  • Hustle culture merupakan budaya yang mendorong seseorang untuk bekerja terlalu keras dan terus melampaui batas kemampuannya.
  • Produktivitas mulai menurun ketika seseorang bekerja lebih dari 48 jam per minggu.
  • Orang yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular.
Jakarta: Bekerja keras sering dianggap sebagai jalan menuju kesuksesan. Namun, ketika lembur, kurang tidur, terus mengejar deadline, hingga tidak punya waktu untuk kehidupan pribadi justru dianggap sebagai gaya hidup yang keren, seseorang bisa saja sudah terjebak dalam hustle culture.

Dilansir dari laman Kementerian Keuangan pada Rabu, 30 September 2026, hustle culture merupakan budaya yang mendorong seseorang untuk bekerja terlalu keras dan terus melampaui batas kemampuannya hingga pekerjaan menjadi bagian utama dalam kehidupan. 

Fenomena ini juga berkaitan dengan workaholism atau perilaku gila kerja yang membuat seseorang merasa harus terus produktif agar tidak tertinggal.

Studi Robinson pada 2019 menemukan 45 persen pengguna media sosial kerap mengunggah aktivitas seperti lembur, mengejar deadline, atau pekerjaan yang menumpuk untuk menunjukkan bahwa mereka merupakan pekerja keras dan berdedikasi.

Masalahnya, bekerja terlalu lama tidak otomatis membuat seseorang semakin produktif. Penelitian John Pencavel menunjukkan bahwa produktivitas mulai menurun ketika seseorang bekerja lebih dari 48 jam per minggu.

Selain itu, penelitian yang dipublikasikan dalam Current Cardiology Reports terhadap 740.000 pekerja menemukan bahwa mereka yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu memiliki peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular.
   

Cara Mengatasi Hustle Culture agar Kerja Tetap Sehat

1. Kenali batas kemampuan diri


Langkah pertama adalah menyadari kapan tubuh dan pikiran mulai memberikan sinyal kelelahan. Jangan menjadikan terus bekerja sebagai standar produktivitas karena setiap orang memiliki batas kemampuan yang berbeda.


2. Buat target yang realistis


Ambisi untuk mencapai sesuatu sebenarnya tidak salah, tetapi target yang terlalu tinggi dan tidak sesuai kondisi justru bisa menjadi sumber tekanan. Cobalah membagi tujuan besar menjadi beberapa target kecil yang lebih realistis dan terukur.
 

3. Atur waktu kerja dan kehidupan pribadi


Pekerjaan sebaiknya tidak mengambil seluruh waktu dalam sehari. Sisihkan waktu untuk tidur, keluarga, teman, olahraga, hobi, atau aktivitas lain yang membuat pikiran kembali rileks.
   

4. Jadwalkan waktu istirahat


Istirahat bukan berarti malas atau tidak produktif. Memasukkan waktu istirahat dan liburan ke dalam jadwal justru dapat membantu mencegah pekerjaan menumpuk dan memberi kesempatan bagi tubuh untuk memulihkan energi.
 

5. Berhenti membandingkan pencapaian dengan orang lain


Melihat teman atau orang lain sukses di media sosial bisa membuat seseorang merasa harus bekerja lebih keras. Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kemampuan, latar belakang, dan tujuan yang berbeda sehingga pencapaian orang lain tidak bisa dijadikan ukuran mutlak untuk menentukan keberhasilan diri sendiri.
 

6. Ingat bahwa hidup bukan cuma soal pekerjaan


Pekerjaan memang menjadi bagian penting dalam kehidupan, tetapi bukan satu-satunya bagian yang perlu diperhatikan. Menjaga hubungan sosial, kesehatan, waktu pribadi, dan kehidupan di luar pekerjaan juga penting agar produktivitas tidak dibayar dengan kelelahan berkepanjangan. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan