Direktur Utama Mining Industry Indonesia (MIND ID) Orias Petrus Moedak. Foto : Medcom/Annisa.
Direktur Utama Mining Industry Indonesia (MIND ID) Orias Petrus Moedak. Foto : Medcom/Annisa.

Holding Indonesia Battery Diharap Terbentuk Pekan Ini

Ekonomi kendaraan Holding BUMN Baterai Litium
Annisa ayu artanti • 15 Oktober 2020 15:45
Jakarta: Konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan membentuk holding PT Indonesia Battery untuk pengelolaan nikel menjadi baterai untuk kendaraan listrik. Holding tersebut ditargetkan bisa terbentuk dalam satu pekan mendatang.
 
Direktur Utama Mining Industry Indonesia (MIND ID) Orias Petrus Moedak mengatakan saat ini tim legal yang telah dibentuk oleh Menteri BUMN Erick Thohir tengah mematangkan pembentukan holding. Ia bilang apabila komposisi kepemilikan saham dalam holding tersebut telah disepakati maka nantinya akan dilaporkan ke Erick untuk dimintai persetujuan.
 
"Tim lagi bicarakan minggu ini kan, tinggal lapor ke Pak Menteri, dan kalau setuju ya sudah holdingnya jadi," kata Orias dalam diskusi virtual, Kamis, 15 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan holding tersebut nantinya akan berisikan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang merupakan anak usaha MIND ID, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero). Menurutnya, apabila kepemilikan sahamnya dibagi rata yakni satu pertiga untuk setiap perusahaan maka prosesnya akan cepat dan tinggal mengurus legalisasi pembentukan perusahaan. Lain halnya jika ada yang ingin memiliki porsi lebih.
 
"Kalau misalnya bagi rata sudah selesai, tinggal tim legalnya kerjakan bagi ratanya seperti apa," ujar dia.
 
Nantinya holding tersebut akan membangun dua proyek pengembangan rantai pasok nikel di Tanah Air dengan nilai investasi sekitar USD12 miliar yang nantinya akan dikerjasamakan oleh mitra yang telah terpilih.
 
Hingga saat ini ada dua mitra yang telah berkontrak Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari Tiongkok dan LG Chem Ltd asal Korea. Holding ini nantinya akan membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan mitra.
 
Adapun mengenai pendanaan, Orias mengatakan komposisinya akan berasal dari ekuitas dan pinjaman. Untuk porsi ekuitas biasanya memiliki porsi 30 persen dari total kebutuhan pendanaan artinya sekitar USD3,6 miliar.
 
Lebih lanjut Orias menambahkan pendanaan tersebut bukan sesuatu yang sulit. Apalagi jika perusahaan telah memiliki rekam jejak yang baik maka lebih mudah mendapatkan pendanaan. Selain itu, peluang kemitraan pun masih terbuka untuk investor lain, tidak hanya berhenti pada dua perusahaan asal Asia Timur itu.
 
"Kan mitranya ada banyak, jadi ini pendanaan enggak berat. Ada mitra, ada kita (holding) juga), pinjaman dari luar juga," jelas Orias.
 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif