Ilustrasi produsen tempe. Foto: dok MI.
Ilustrasi produsen tempe. Foto: dok MI.

Wah, Orang Indonesia Makan Tempe 0,14 Kilogram per Minggu!

Ekonomi kedelai harga kedelai Kementerian Perindustrian Tempe
Husen Miftahudin • 06 Januari 2021 17:08
Jakarta: Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih mengatakan tahu dan tempe merupakan produk makanan olahan yang berasal dari kedelai. Kedua produk tersebut sangat familiar bagi penduduk Indonesia, bahkan tidak jarang frekuensi konsumsinya cukup tinggi.
 
"Hal ini tampak dari konsumsi tahu per kapita per minggu sebesar 0,15 kilogram (kg) dan konsumsi tempe per kapita per minggu sebesar 0,14 kg," ujar Gati dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 6 Januari 2021.
 
Selain karena harga yang terjangkau, tahu dan tempe juga mengandung banyak kandungan gizi. "Hampir 90 persen kedelai di Indonesia digunakan untuk pembuatan tahu dan tempe. Sedangkan sisanya untuk produk lainnya seperti tauco dan kecap," imbuhnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Guna meningkatkan produktivitas IKM tahu dan tempe, Kemenperin terus mendorong penerapan teknologi tepat guna, fasilitasi mesin dan peralatan, serta pemanfaatan program restrukturisasi mesin dan peralatan.
 
"Tidak hanya itu, dalam rangka penumbuhan wirausaha baru IKM (Industri Kecil Menengah) tahu tempe dan produk olahan turunan tahu tempe, juga diberikan pembinaan SDM dan teknologi produksi seperti pelatihan manajemen dan teknis produksi serta diversifikasi produk," papar Gati.
 
Selain itu Kemenperin juga aktif mendorong produsen tahu dan tempe, yang merupakan pelaku IKM untuk terus meningkatkan produktivitasnya secara higienis dan efisien. Langkah ini diwujudkan melalui pelaksanaan berbagai program pembinaan, seperti pendampingan, bimbingan teknis produksi dan sertifikasi keamanan pangan.
 
"Cara pengolahan yang mudah, mesin, dan peralatan yang sederhana membuat tahu tempe banyak diproduksi di seluruh pelosok tanah air. Dominannya berada di Pulau Jawa, yakni di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sebagian besar adalah pelaku skala kecil," jelas dia.
 
Bahkan, program industri hijau atau industri ramah lingkungan turut dilaksanakan melalui kegiatan pendampingan produksi bersih serta fasilitasi mesin dan peralatan pengolahan limbah sentra IKM tahu dan tempe. Langkah ini untuk mendorong para pelaku IKM tahu dan tempe menuju aktivitas usaha yang ramah lingkungan.
 
Program ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, baik dari sisi penggunaan bahan baku dan bahan penolong, serta penghematan penggunaan energi dan air dalam menghasilkan produk yang berbasis pada konsep 3R (reduce, reuse, dan recycle).
 
"Diharapkan melalui program ini akan berdampak langsung pada pengurangan limbah yang dihasilkan dari proses produksi," tambah Gati.
 
Gati menyatakan pihaknya juga memacu peningkatan daya saing produk melalui inovasi produk atau proses produksi. Untuk meningkatkan efisiensi dalam hal biaya, energi, dan waktu, Kemenperin juga memberikan pendampingan pilot project implementasi 4.0 pada IKM Keripik Tempe Sanan di Malang yang dilakukan oleh Tempeniza.
 
"Tempeniza membuat mesin pengolah berbagai macam proses pengolahan tempe dengan teknologi tepat guna yang terjangkau, hemat energi, efektif, dan efisien. Tempeniza juga menghadirkan solusi bagi pengusaha tempe skala kecil dengan merintis perusahaan mesin pengolah tempe higienis berdaya listrik rendah dan dijual dengan harga yang ekonomis," tutup Gati.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif