Ilustrasi mal. Foto: Antara/Nova Wahyudi
Ilustrasi mal. Foto: Antara/Nova Wahyudi

Dampak Resesi Sudah Lebih Awal Dirasakan Pengelola Mal

Ekonomi Pusat Perbelanjaan Resesi Ancam Indonesia
Ilham wibowo • 28 September 2020 16:45
Jakarta: Ancaman resesi pada ekonomi Indonesia faktor utamanya merupakan akumulatif pelemahan aktivitas perdagangan domestik. Dampak negatif resesi, diakui bahkan terjadi lebih awal oleh pusat perbelanjaan.
 
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan selama enam bulan terakhir pengelola mal mengalami defisit yang cukup dalam. Padahal, fasilitas mal merupakan pusat pergerakan konsumsi domestik yang punya andil besar pada pertumbuhan ekonomi nasional.
 
"Sebetulnya buat kami, resesi sudah dirasakan dari beberapa bulan lalu, jika diumumkan resesi itu memang cuma akumulasi saja" kata Alphonzus dalam konferensi pers virtual, Senin, 28 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengelola mal mengalami pasang surut omzet sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dan daerah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Di DKI Jakarta, misalnya, jumlah pengunjung mal sempat naik di angka 40 persen selama PSBB pelonggaran, kemudian turun lagi menjadi hanya 20 persen di PSBB Jilid II.
 
"Masalah saat ini industri ritel atau pusat perbelanjaan mengalami defisit besar. Sejak Maret diumumkan covid-19 tingkat kunjungan langsung drop hingga saat ini," ujarnya.
 
Menurut Alphonzus, dalam situasi resesi saat ini Indonesia sebetulnya diuntungkan dengan jumlah penduduknya yang besar mencapai 260 juta jiwa. Dengan peningkatan konsumsi produk domestik sepenuhnya oleh masyarakat saja paling sedikit bisa langsung berdampak pada pertumbuhan di akhir tahun.
 
"Kalau sepakat industri dalam negeri yang diutamakan, pemainnya harus kuat dan punya daya tahan," tuturnya.
 
Pembatasan akses fasilitas mal membuat masyarakat ragu membelanjakan dananya. Secara tidak langsung situasi ini memutus mata rantai produk industri yang juga melibatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan ujungnya pengangguran dan kemiskinan meningkat.
 
"Pemerintah harus bantu, berikan nafas supaya perusahaan tidak collapse sehingga perdagangan dalam negeri bisa hidup dan resesi bisa terjadi singkat," ujarnya.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif