Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan hingga Oktober year to date (ytd), realisasi ekspor komoditas pertambangan ini baru mencapai 58,81 persen dari target di 2020. Padahal selama ini, batu bara menjadi andalan pemerintah dalam menghasilkan penerimaan negara.
"Ekspor targetnya 397 juta ton, per Oktober baru 58,81 persen atau 232,3 juta ton," kata Airlangga dalam APBI Award, Selasa, 27 Oktober 2020.
Ia bilang penurunan permintaan tidak hanya terjadi di luar negeri, namun juga di dalam negeri. Target penyaluran batu bara untuk pasar dalam negeri (domestic market obligation/DMO) terpaksa direvisi dari 155 juta ton untuk PLN sebesar 109 juta ton, pengolahan dan pemurnian atau smelter sebesar 16,52 juta ton, pupuk sebesar 1,73 juta ton, semen sebesar 14,54 ton, tekstil sebesar 6,54 ton, dan kertas sebesar 6,64 ton menjadi 141 juta ton.
"Kinerja sektor pertambangan mengalami kontraksi. Tercermin dari permintaan domestik. Target 155 juta ton domestik. Tapi hanya bisa 141 juta ton," ujr Airlangga.
Pandemi juga membuat harga batu bara merosot. Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang semula bekisar di level USD66,89 per ton pada Februari, lalu turun 35,95 persen menjadi USD49,2 per ton pada September 2020.
Selain itu target investasi di sektor ini yang mencapai USD7,7 miliar, realisasinya baru mencapai 27 persen atau USD2,1 miliar.
Dalam sesi berbeda, Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin menjelaskan kendati kondisi yang berat di tengah pandemi. Namun ia berharap pelaku industri pertambangan batu bara tetap berinvestasi dan meningkatkan produksi demi memenuhi kebutuhan energi di masa mendatang.
"Harus tetap optimistis dan terus berjuang semoga secara bersama APBI dapat terus mendukung program-program pemerintah untuk melanjutkan ketahanan energi nasional melalui ketahanan cadangan batu bara," jelas Ridwan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News