Ilustrasi produk UMKM lokal - - Foto: MI/ Hendrik
Ilustrasi produk UMKM lokal - - Foto: MI/ Hendrik

Kondisi UMKM Nasional Bakal Membaik Signifikan

Ekonomi survei UMKM pandemi covid-19 UMKM Indonesia
Annisa ayu artanti • 01 Juli 2021 10:48
Jakarta: Kondisi bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diperkirakan mengalami perbaikan yang signifikan hingga awal kuartal II-2021. Sebanyak 22 persen UMKM yang sebelumnya terhenti telah kembali beroperasi normal pada 2021.
 
Berdasarkan Survei Mandiri Institute
pada Maret-April 2021 terhadap 505 UMKM di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan beberapa provinsi di Indonesia, sebanyak 85 persen responden UMKM menyatakan sudah kembali berjalan normal pada awal kuartal II-2021.
 
"Padahal, jika melihat situasi pada September 2020, hanya 28 persen UMKM yang menjawab bahwa kondisi usaha sudah normal," kata Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono dalam keterangan tertulis, Kamis, 1 Juli 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun kinerja penjualan UMKM pada awal kuartal II-2021 juga mulai membaik, meski masih terdapat risiko terjadi penurunan yang tinggi.
Hasil survei mengindikasikan bahwa pelaku usaha yang mengalami kenaikan omzet dan dapat mempertahankan omzet penjualannya semakin banyak.
 
Namun, masih terdapat lebih dari 50 persen UMKM yang menjawab bahwa penjualannya mengalami penurunan dibandingkan kondisi 2020.
 
"Terkait dengan penetrasi digital, kami mencatat mayoritas UMKM sudah memiliki saluran pemasaran digital untuk menjual produknya. Media sosial masih menjadi platform pilihan utama pelaku usaha dalam melakukan pemasaran dan penjualan dengan rasio 40 persen. Hal ini diikuti oleh penggunaan layanan instant messaging, platform e-commerce, dan platform ride hailing," jelasnya.
 
Meskipun demikian, survei mengungkapkan utilisasi saluran pembayaran digital masih rendah pada UMKM. Temuan awal, lanjutnya, menunjukkan hanya 24 persen usaha yang menggunakan e-wallet dalam bertransaksi usaha. Mayoritas usaha yakni sebesar 51 persen tidak menggunakan channel transaksi non-tunai, seperti melalui e-wallet dan EDC.
 
"Adapun terkait pembiayaan, kami mendapatkan bahwa mayoritas UMKM masih mengandalkan sumber pembiayaan dari perbankan," ungkapnya.

 
Hal ini didasarkan dari hasil survei bahwa lebih dari setengah pemilik usaha UMKM atau sebanyak 58 persen mengandalkan pembiayaan dari sektor perbankan, sebanyak 22 persen melalui institusi finansial non-bank, sementara yang memiliki pinjaman melalui fintech hanya tercatat sebanyak enam persen.
 
"Oleh karena itu, kami mengusulkan agar program bantuan pemerintah untuk UMKM perlu dilanjutkan. Lalu efektivitas sasaran target usaha serta komunikasi kebijakan ini perlu ditingkatkan, mengingat survei ini mencatat bahwa sebesar 82 persen dari responden mengetahui adanya program bantuan UMKM, namun hanya 41 persen usaha yang mendaftar program tersebut," pungkasnya.
 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif