Ilustrasi. FOTO: MI/SUMARYANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/SUMARYANTO

Waduh! Pertamina dan PLN Berpotensi Boncos Tahun Ini

Annisa ayu artanti • 19 Mei 2022 20:16
Jakarta: Dua perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terbesar, yakni PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) berpotensi boncos tahun ini. Hal ini terungkap dari bahan paparan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Banggar DPR hari ini, yang menjelaskan potensi kerugian yang bakal dipikul BUMN pelat merah tersebut.
 
Untuk Pertamina, selisih (gap) yang semakin besar antara harga jual eceran Bahan Bakar Minyak (BBM) dan harga keekonomian menyebabkan kerugian badan usaha.
 
Seperti diketahui, meskipun gap harga jual eceran dan harga keekonomian meningkat tajam, pemerintah berkomitmen untuk menjaga pasokan BBM dan satu harga BBM dan LPG yang terjangkau bagi masyarakat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari kondisi itu, Pertamina harus menanggung selisih antara harga jual eceran dan harga keekonomian BBM. Untuk itu, Pertamina membutuhkan dukungan dari pemerintah.
 
"Akibat kenaikan ICP yang meningkat signifikan, arus kas operasional Pertamina pada Maret 2022 negatif USD2,44 miliar. Jika tidak ada tambahan penerimaan dari Pemerintah, maka pada Desember 2022 arus kas operasional akan defisit USD12,98 miliar," tulis bahan paparan tersebut, dikutip Kamis, 19 Mei 2022.
 
Seluruh rasio keuangan Pertamina mengalami pemburukan yang signifikan sejak awal 2022. Hal ini dapat menurunkan credit rating Pertamina dan akan berdampak pada credit rating pemerintah.
 
Sementara itu, untuk PLN dijelaskan, kondisi BUMN setrum tersebut juga akan memburuk dengan kenaikan ICP dan tidak dilakukannya penyesuaian tarif listrik.
 
Per 30 April 2022, PLN telah menarik pinjaman sebesar Rp11,4 triliun dan akan melakukan penarikan pinjaman kembali di Mei dan Juni sehingga total penarikan pinjaman sampai dengan Juni menjadi Rp21,7 triliun sampai Rp24,7 triliun.
 
"Jika tidak ada tambahan kompensasi dari pemerintah, maka pada Desember 2022 diproyeksikan arus kas operasional PLN akan defisit Rp71,1 triliun," tulis bahan paparan.
 
PLN perlu menjaga rasio kecukupan kas operasi untuk mampu membayar pokok dan bunga pinjaman atau debt service coverage ratio (DSCR) kepada lenders, setidaknya minimum 1.0x.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif