"Hari ini kita dihadapkan bersama ketika komoditas naik, ibu-ibu yang tidak senang, contoh (komoditas) minyak goreng," kata Erick Thohir, dilansir dari Mediaindonesia.com, Senin, 10 Januari 2022.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), pemerintah menghadirkan operasi pasar yang menargetkan 1,2 miliar liter minyak goreng. Erick menjelaskan, sebagian dana operasi pasar tersebut berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
"Terima kasih Bapak Presiden Jokowi memutuskan membuat operasi pasar 1,2 miliar liter. Ini atas kerja sama swasta, BUMN dan pemerintah, karena ini uangnya dari badan sawit, bukan uang pemerintah murni," ungkapnya.
Menteri BUMN menekankan, operasi pasar harga minyak goreng atas koordinasi dari berbagai pihak yang diklaim tidak mencari untung sepihak saja.
"Dalam tekanan seperti ini, kuncinya hanya satu, bergotong royong. Ini membuka pola pikir kita yang selalu ego sentris. Susksesnya sebuah ekosistem itu, karena seluruh stakeholder menaruh kepentingannya di tengah, bukan kepentingannya dipegang masing-masing," ucap Erick.
Sebelumnya, Erick menuturkan, anak usaha Holding Perkebunan, PT Industri Nabati Lestari (INL), tengah mengembangkan produksi turunan CPO atau minyak sawit dalam hal operasi pasar. "Kita pakai merek INL karena ini khusus merek ekonomis (value for money)," sebutnya.
Erick menyebut harga minyak INL sesuai harapan pemerintah yakni Rp14 ribu per liter yang tersedia dalam dua kemasan yakni 450 ml dan 900 ml. Erick menyebut BUMN harus memanfaatkan momentum dengan mulai mengenalkan kemasan sederhana khusus untuk pasar tradisional dengan brand INL.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News