Foto: Medcom.id
Foto: Medcom.id

Penarikan Garam Himalaya Bagian dari Perlindungan Konsumen

Ekonomi Garam Himalaya
Ilham wibowo • 24 Juli 2020 10:12
Jakarta: Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah meminta penjualan garam himalaya dihentikan lantaran produknya ditujukan untuk konsumsi masyarakat di Indonesia. Garam berwarna merah muda ini belum mengantongi standar nasional Indonesia (SNI) wajib.
 
"Kalau garam itu dikonsumsi, harus diterapkan SNI wajib," kata Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kemendag Veri Anggrijono kepada Medcom.id, Jumat, 24 Juli 2020.
 
Menurut Veri, aturan SNI wajib merupakan wewenang Pemerintah untuk keperluan melindungi kepentingan umum, keamanan negara, perkembangan ekonomi nasional, dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Tanpa adanya SNI wajib produk yang diperdagangkan menjadi terlarang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebenarnya garam manapun boleh saja dijual di wilayah Indonesia tapi kan tetap harus melalui aturan," tuturnya.
 
Veri menuturkan bahwa dari sejumlah produk yang disita pihaknya tengah melakukan uji laboratorium terkait kandungan garam himalaya untuk mengetahui pasti tingkat keamanannya saat dikonsumsi. Apalagi, tren penggunaan produk tersebut juga tengah meningkat dan penyebarannya sudah banyak di kalangan masyarakat menengah serta penjual reseller.
 
"Nanti kita lihat sesuai SNI wajib, akan ada parameter macam-macam yang harus dipenuhi. Misalnya salah satu parameter tidak dipenuhi dan itu menyangkut keamanan ya, sudah pasti menganggu kesehatan, apalagi garam konsumsi kan harus beryodium," paparnya.
 
Terlepas dari hasil uji, lanjut dia, Pemerintah Indonesia hingga saat ini belum pernah mengeluarkan izin impor garam untuk konsumsi, termasuk garam himalaya yang didatangkan dari tambang garam di Pakistan. Peredaran garam konsumsi di Tanah Air pun sepenuhnya khusus dipasok oleh petani garam lokal.
 
"Garam himalaya itu tidak mendapatkan izin edar," ungkapnya.
 
Veri menambahkan bahwa, penarikan garam himalaya dari seluruh toko ritel modern maupun toko online juga merupakan bentuk keberpihakan kepada produk lokal terutama UMKM garam. Sejauh ini, menurut literatur kesehatan kandungan garam himalaya dan garam lokal hanya memiliki perbedaan sedikit di tingkat kandungan NaCL dan beberapa mineral lain.
 
"Ini bagian perlindungan produk lokal, bagaimana kita bantu petani garam lokal kita kalau di pasar diganggu-ganggu produk seperti itu," tuturnya.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif