Ilustrasi sektor ritel - - Foto: MI/ Rommy Pujianto
Ilustrasi sektor ritel - - Foto: MI/ Rommy Pujianto

Abai Protokol Kesehatan, Usaha Ritel Bakal Ditinggal Konsumen

Ekonomi ritel pandemi covid-19 Pusat Perbelanjaan protokol kesehatan
Ilham wibowo • 30 September 2020 17:12
Jakarta: Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menyebut usaha ritel yang tidak menerapkan protokol kesehatan akan ditinggalkan oleh konsumen. Sebab, di masa pandemi, konsumen bersikap selektif atau cenderung berhati-hati terhadap penularan covid-19.
 
Dia mengatakan bahwa pelaku usaha yang mengabaikan protokol kesehatan selama menjalankan tata kenormalan baru telah ditinggalkan masyarakat. Sikap selektif konsumen mengunjungi tempat belanja itu pun upaya menghindari penularan wabah.
 
"Kami sudah investasi besar untuk menerapkan protokol kesehatan, kami benahi agar aman dan sehat, kalau sakit orang mana bisa belanja uangnya buat ke dokter," kata Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah kepadaMedcom.id, Rabu, 30 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya pengusaha ritel menyadari kenyamanan berbelanja harus diimbangi dengan jaminan pencegahan covid-19. Karena itu, standar prosedur atau protokol kesehatan menjadi hal utama selama pandemi.
 
"Jadi memang aman, konsumen pasti pilih kalau tempat enggak bersih ya enggak mau, restoran yang protokol kesehatannya jelek ya sepi," ujarnya.

 
Budi berharap layanandine-inatau makan di tempat diperbolehkan bagi restoran yang ada di mal. Sebab, omzet untuk toko ritel yang berada di mal kembali turun signifikan setelah pemberlakuan PSBB jilid II.
 
"Dengan tidak diperbolehkannya restoran di maldine-in, toko-toko yang di luar restoran juga jadi sepi seperti toko baju, toko sepatu toko dan yang lain. Karena orang ke mal ngapain kalau enggak boleh makan, enggak ada orang yang akan datang," ungkapnya.
 
Omzet penjualan penyewa di pusat perbelanjaan turun ke angka 15 persen. Padahal, optimisme pengusaha untuk mempertahankan aset dan tenaga kerja sempat meningkat lantaran Agustus lalu kenaikan omset mencapai 60 persen.
 
"Mal itu bukan klaster penularan wabah, walaupun pengunjung dibatasi 50 persen tapi yang datang itu pasti beli. Protokol kesehatan yang penerapannya bagus jadi ramai, memang harus begitu," pungkasnya.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif