Ilustrasi BBM jenis Pertamax - - Foto: dok MI
Ilustrasi BBM jenis Pertamax - - Foto: dok MI

Harga Pertamax Bisa Tembus Rp16 Ribu, Apa yang Bakal Terjadi?

Annisa ayu artanti • 26 Maret 2022 13:26
Jakarta: Harga keekonomian Bahan Bakar Minyak (BBM) umum berkadar RON 92 atau Pertamax milik PT Pertamina (Persero) diprediksi terus naik hingga mencapai Rp16 ribu per liter.
 
Potensi peningkatan tersebut terjadi karena hingga akhir Maret 2022, harga minyak dunia masih di atas USD100 per barel. Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) pun melonjak. Perkembangan sementara ICP per 24 Maret 2022 tercatat sebesar USD114,55 per barel.

 
"ICP sementara Maret 2022 per tanggal 24 sebesar USD114,55 per barel, padahal per tanggal 1 Maret sebesar USD110,14 per barel. Bahkan ICP rata-rata bulan Februari sebesar USD95,7 per barel. Jadi masih tinggi trennya," ungkap Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Agung Pribadi dikutip dalam laman Kementerian ESDM, Sabtu, 26 Maret 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Agung menjelaskan konflik Ukraina dan Rusia masih menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga. Pasokan minyak mentah dari Rusia dan Kazakhstan terganggu akibat kerusakan pipa Caspian Pipeline Consortium yang berdampak pada berkurangnya pasokan ke Uni Eropa.
 
Tingginya harga minyak dunia itu, lanjut Agung, sangat berpengaruh terhadap harga BBM. Sebagai informasi, batas atas harga jual jenis BBM umum RON 92 untuk Maret 2022 sebesar Rp14.526 per liter. Harga tersebut merupakan cerminan dari harga keekonomian BBM RON 92 berdasarkan formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis BBM Umum.
 
"Dengan mempertimbangkan harga minyak Maret yang jauh lebih tinggi dibanding Februari, maka harga keekonomian atau batas atas BBM umum RON 92 April 2022 akan lebih tinggi lagi dari Rp14.526 per liter, bisa jadi sekitar Rp16.000 per liter," ungkapnya. .
 
Peningkatan harga ini akan berimbas kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta beban keuangan Pertamina. "Jadi sebagaimana yang telah disampaikan oleh Bapak Menteri ESDM, saat ini kita masih mencermati harga minyak ini, karena kalau berkepanjangan memang bebannya berat juga baik ke APBN, Pertamina dan sektor lainnya," pungkasnya. 

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif