Dana tersebut berasal dari saldo rata-rata (ratas) sebesar Rp19,7 triliun serta tambahan kebutuhan kas selama tujuh hari periode layanan Lebaran sebesar Rp5,3 triliun.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan aktivitas transaksi masyarakat tetap berjalan lancar selama momen hari raya yang biasanya diiringi peningkatan aktivitas keuangan.
Transaksi digital semakin dominan
Direktur Operations BRI Hakim Putratama mengatakan ketersediaan uang tunai pada periode Lebaran tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya penggunaan transaksi digital seperti QRIS dan mobile banking BRImo.
"Itu (QRIS dan mobile banking) yang memberikan impact yang luar biasa terhadap penurunan ketersediaan cash," kata Hakim dilansir Antara, Rabu, 11 Maret 2026.
| Baca juga: BRI Cetak Laba Rp57,13 Triliun di 2025, Kredit UMKM Jadi Motor Utama |
"Kita akan lihat di tahun-tahun berikutnya apakah nanti akan naik atau turun. Tapi sekarang trennya sedang turun karena memang tren belanja dengan QRIS dan penggunaan di BRImo itu lumayan tinggi," jelasnya.
Pengguna BRImo dan QRIS BRI terus bertambah
BRI mencatat penggunaan layanan digitalnya terus mengalami pertumbuhan.Hingga Desember 2025, jumlah pengguna BRImo mencapai 45,9 juta atau tumbuh 18,9 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sementara itu, nilai transaksi melalui BRImo tercatat mencapai Rp7.076,9 triliun, meningkat 26,4 persen (yoy).
Penggunaan QRIS BRI juga menunjukkan peningkatan signifikan. Volume transaksi tercatat naik 100 persen menjadi Rp85,6 triliun, sementara jumlah transaksi meningkat 127,5 persen menjadi lebih dari 782,8 miliar transaksi.
Hakim menjelaskan bahwa perusahaan juga mendorong pengurangan penggunaan uang tunai sebagai bagian dari strategi efisiensi operasional.
Pasalnya, semakin besar jumlah uang tunai yang beredar, semakin tinggi pula biaya yang dibutuhkan untuk menjaga keamanan distribusinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News