Ilustrasi pedagang pasar. Foto: dok MI/Pius Erlangga
Ilustrasi pedagang pasar. Foto: dok MI/Pius Erlangga

Pedagang Pasar Khawatir Dampak Kenaikan BBM dan Rencana Kenaikan Cukai

Eko Nordiansyah • 08 September 2022 21:51
Jakarta: Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi oleh pemerintah dikhawatirkan bakal turut mendorong lonjakan harga-harga di pasar tradisional. Dengan daya beli masyarakat yang masih belum pulih, omzet para pedagang juga diprediksi bisa terganggu.
 
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Mujiburrohman mengungkapkan, perekonomian masih belum sepenuhnya bangkit dari keterpurukan. Saat ini terjadi kenaikan harga bahan pokok yang disebabkan oleh berbagai hal.
 
“Barang pokok mengalami kenaikan yang disebabkan pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan BBM, dan lain-lain yang berimbas pada harga bahan pokok,” kata Mujiburrohman dalam keterangan tertulis, Kamis, 8 September 2022.
 
Akibat kenaikan harga bahan pokok yang tidak terkendali itu, masyarakat juga turut mengurangi pembelian terhadap beberapa barang konsumsi lain yang non-pokok baik makanan maupun minuman. Salah satu produk yang mengalami penurunan omzet adalah penjualan rokok.
 
Sebelum pandemi keuntungan dari penjualan rokok biasanya mencapai 10 persen, namun kini turun menjadi 6-7 persen. Selain daya beli masyarakat yang melemah, hal ini juga disebabkan oleh kenaikan harga rokok akibat peningkatan tarif cukai.
 
"Kalau cukai rokok naik, maka harga rokok juga naik. Ini menyusahkan pedagang pasar, pedagang asongan, bahkan petani tembakau dan buruh rokok yang menggantungkan nasibnya pada barang ini. Harapan kami cukai tidak naik tahun depan," tegasnya.
 
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai kenaikan harga BBM bersubsidi tahun ini akan memicu lonjakan inflasi hingga menjadi 7,2 persen. Menurutnya, kenaikan inflasi akan menggerus daya beli dan konsumsi masyarakat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kenaikan harga juga akan berimbas pada harga kebutuhan pokok. Masyarakat miskin akan merasakan dampaknya, seperti harga yang naik padahal belum pernah memperoleh BBM subsidi sekalipun," tuturnya.
 
Baca juga: Asosiasi Pedagang Pasar Apresiasi Pembentukan Lembaga Khusus Pangan

 
Sampai Juli 2022, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year) Indonesia sudah menyentuh 4,94 persen. Kenaikan inflasi itu terutama didorong oleh lonjakan harga-harga kebutuhan pokok di pasar.
 
Adapun kelompok bahan makanan, minuman, dan tembakau sampai Juli menyumbang inflasi terbesar yaitu sebanyak 9,35 persen. Kenaikan harga komoditas ini akan memicu inflasi lebih lanjut apabila kenaikan terus dibiarkan terjadi.
 
"Dampak kenaikan harga BBM, juga bakal dirasakan para pedagang pasar. Mereka akan terkena dua imbas sekaligus yakni biaya produksi yang naik akibat peningkatan ongkos transportasi serta harga barang konsumsi semakin mahal. Akibatnya, para pedagang akan mengalami kesulitan untuk menarik omzet dan mendapatkan margin," pungkas dia.
 
(END)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif