Menteri Perdagangan Agus Suparmanto. Foto : Medcom/Desi A.
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto. Foto : Medcom/Desi A.

Ekspor Menara Angin Indonesia Dianggap Merugikan AS

Ekonomi ekspor Kementerian Perdagangan
Ilham wibowo • 19 Oktober 2020 10:42
Jakarta: Kerugian yang dialami industri menara angin di Amerika Serikat (AS) dinilai tak tepat setelah dialamatkan kepada produsen di Indonesia. Langkah AS yang memberikan bea masuk produk tersebut merupakan bentuk perlakuan tidak adil.
 
"Indonesia sebenarnya dapat memenangkan kasus ini tanpa diterapkannya bea masuk subsidi jika pihak otoritas AS berlaku adil dengan tidak memasukkan unsur upstream subsidy," ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto melalui keterangan resmi, Senin, 19 Oktober 2020.
 
Masalah ini muncul saat Departemen Perdagangan Amerika Serikat (US Department of Commerce/USDOC) pada 29 Juni 2020 mengeluarkan putusan akhir penyelidikan anti subsidi terhadap produk menara angin (wind tower) asal Indonesia dengan margin subsidi sebesar 5,9 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Komponen terbesar dari margin tersebut, sebesar 5,7 persen, disebut berasal dari subsidi hulu atau upstream subsidy. USDOC mengklaim subsidi tersebut terkandung dalam produk cut to length steel plate (CTL) produksi dalam negeri yang merupakan bahan baku utama menara angin.
 
Pemerintah AS juga menerapkan margin sebesar 0,17 persen yang dihitung USDOC dari subsidi listrik. Kemudian 0,03 persen margin lainnya dari pembebasan PPh Impor.
 
Hasil akhir tersebut lebih rendah dari ketetapan margin subsidi sebelumnya yang mencapai 20,29 persen pada Desember 2019 yang kemudian diubah setelah penyampaian argumen lanjutan dalam legal dan rebuttal brief pascaverifikasi.
 
Saat itu, AS menganggap kebijakan Indonesia kepada produsen bahan baku CTL untuk menjual CTL tersebut di bawah harga wajar kepada produsen wind tower dalam negeri.
 
Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri RI Didi Sumedi menyampaikan bahwa pihaknya kecewa dengan putusan Pemerintah AS menerapkan bea masuk tersebut. Upaya banding sedianya masih bisa dilakukan.
 
"Satu sisi kita bergembira karena upaya panjang Indonesia sampai pada garis akhir, yaitu margin subsidi dapat digugurkan. Di sisi lain, kita kecewa karena diperlakukan tidak adil dengan manuver USDOC. Kita sama sekali tidak dinotifikasi soal penyelidikan upstream subsidy sehingga tidak ada pembelaan di situ,” ungkap Didi.
 
Meski Indonesia hanya punya satu produsen wind tower, prospeknya tetap menunjang kinerja ekspor nasional yang masih sangat bagus terutama ke pasar AS. Pada 2019, ekspor produk tersebut tembus USD90 juta pada 2019 atau naik tajam dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD64 juta.

 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif