Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI
Ilustrasi. FOTO: Dok MI/PANCA SYURKANI

Optimalisasi Pengelolaan Zakat Diyakini Dapat Entaskan Kemiskinan

Ekonomi kemiskinan Zakat Masyarakat Ekonomi Syariah
Antara • 26 April 2022 08:57
Makassar: Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sulawesi Selatan (Sulsel) Mukhlis Sufri menilai optimalisasi pengelolaan zakat dapat mengentaskan kemiskinan, khususnya di Sulsel. Karena itu, semua pihak terkait diharapkan bisa bersama-sama memperkuat zakat demi kepentingan bersama yang lebih besar.
 
"Bagian penting untuk menanggulangi kemiskinan itu bisa melalui zakat, jika ini dioptimalkan untuk disalurkan kepada delapan asnaf penerima zakat," kata Mukhlis Sufri, di Makassar, dilansir dari Antara, Selasa, 26 April 2022.
 
Sejumlah strategi dalam optimalisasi zakat, kata Mukhlis, perlu penguatan kelembagaan semua lembaga zakat, mulai dari tingkat desa hingga provinsi, seperti Unit Pengumpul Zakat (UPZ) di masing-masing masjid, perbaikan SDM, dan infrastruktur.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jika dihitung 80 persen maka umat Muslim dari total penduduk Sulsel sebanyak 8.610.856 jiwa. Kemudian hanya 50 persennya dikategorikan nishap yang berarti 3.444.344 jiwa. Lalu mereka berzakat dengan asumsi pendapatan Rp6,6 juta per bulan maka 2,5 persennya sebanyak Rp165 ribu per orang di setiap bulannya. Totalnya mencapai Rp568 juta lebih per bulan
 
Sehingga apabila ratusan juta itu dipungut selama setahun, potensi zakat Sulsel sebesar Rp6,8 triliun per tahun. "Ini jika merujuk pada asumsi potensi zakat profesi dengan skenario optimistis. Potensi zakat ini bisa diambil dari tenaga ASN, BUMN, BUMD, TNI, Polri, DPRD, OJK dan lainnya," katanya.
 
Sementara itu, Ketua Baznas Sulsel Muhammad Khidri Alwi mengemukakan, jika optimalisasi pengumpulan zakat bagus maka bisa mencapai Rp12 triliun per tahun. Artinya dibutuhkan penguatan dalam edukasi umat terkait kewajiban berzakat bagi yang mampu.
 
"Kemiskinan memang susah hilang dan akan selalu kita hadapi. Baznas dan Laz tidak akan bisa menghapuskan kemiskinan. Hanya jika dioptimalisasi maka akan sangat bisa membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan," urainya.
 
Menurut Khidri, tanpa dibantu zakat, para mustahik (golongan tertentu yang menerima zakat) yang menjadi sampel pengukuran membutuhkan waktu yang cukup lama untuk keluar dari kemiskinan.
 
Misalnya tanpa bantuan zakat, pada standar garis kemiskinan membutuhkan waktu 13,47 tahun untuk keluar dari jeratan kemiskinan. Sementara dengan bantuan zakat, standar garis kemiskinan yang dibutuhkan menjadi 3,43 tahun.
 
"Maka perlu dilakukan pemberdayaan, memberi modal kepada masyarakat untuk mengembangkan usahanya, tidak hanya diberi bantuan dalam bentuk fisik," pungkas dia.

 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif